JARINGAN SYARAF TIRUAN DAN CONTOH APLIKASINYA PADA MODEL ADALINE

1. Pendahuluan

Secara awam, aspek yang cukup penting yang mendasari berbagai teori dalam AI adalah system pengenalan pola (Pattern Recognizing) yang merupakan bagian dari pengimplementasian Neural Network (NN) atau Jaringan Syaraf Buatan secara praktis. Sistem pengenalan pola merupakan komponen penting dalam proses peniruan kemampuan inderawi manusia terutama penglihatan dan pendengaran. Sebagai contoh, untuk meniru indera penglihatan manusia, komputer harus mempunyai suatu mekanisme standar dan logis dalam mengenali pola yang ada pada suatu citra yang sedang diproses. Dari sinilah diperoleh motivasi untuk mencoba suatu konsep sederhana untuk mengenali pola dari suatu citra sehingga dapat diidentifikasi dengan baik oleh komputer. Permasalahan utama yang terjadi apabila hendak mengenali suatu pola tertentu dan mengumpankannya ke dalam suatu proses jaringan syaraf buatan adalah bagaimana proses akuisisi data dilakukan sehingga menghasilkan sejumlah data numerik yang representatif dan konsisten terhadap sampel yang diberikan. Dalam penulisan ini, kita mencoba mengaplikasikan suatu metode sederhana untuk mengenali suatu citra sehingga dapat diidentifikasi dengan baik oleh komputer dengan memanfaatkan berbagai teori seperti Image Proccessing, Artificial Neural Networks.

 

2. Landasan Teori

2.1 Jaringan Syaraf Biologi

 

Otak manusia memiliki struktur yang sangat kompleks dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Otak terdiri dari neuron-neuron dan penghubung yang disebut sinapsis. Neuron bekerja berdasarkan impuls atau sinyal yang diberikan pada neuron. Neuron meneruskannya pada neuron lain. Diperkirakan manusia memiliki 1012 neuron dan 6.1018 sinapsis. Dengan jumlah yang begitu banyak, otak mampu mengenali pola, melakukan perhitungan, dan mengontrol organ-organ tubuh.

 

 

 

 

 

Neuron memiliki tiga komponen penting yaitu dendrit, soma dan axon. Dendrit menerima sinyal dari neuron lain. Sinyal tersebut berupa impuls elektrik yang dikirim melalui celah sinaptik melalui proses kimiawi. Sinyal tersebut dimodifikasi di celah sinaptik. Berikutnya soma menjumlahkan semua sinyal-sinyal yang masuk. Kalau jumlah tersebut cukup kuat dan melebihi batas ambang (treshold), maka sinyal tersebut akan diteruskan ke sel lain melalui axon. Frekuensi penerusan sinyal berbeda beda antara satu sel dengan yang lain.

 

2.2 Jaringan Syaraf Tiruan

 

Jaringan syaraf tiruan (JST) adalah sistem pemroses informasi yang memiliki karakteristik mirip dengan jaringan syaraf biologi.

 

JST dibentuk sebagai generalisasi model matematika dari jaringan syaraf biologi, dengan asumsi bahwa :

  • Pemrosesan informasi terjadi pada banyak elemen sederhana (neuron)
  • Sinyal dikirimkan diantara neuron-neuron melalui penghubung- penghubung
  • Penghubung antar neuron memiliki bobot yang akan memperkuat atau memperlemah sinyal
  • Untuk menentukan output, setiap neuron menggunakan fungsi aktivasi yang dikenakan pada jumlah output yang diterima. Besarnya output ini selanjutnya dibandingkan dengan suatu batas ambang.

 

JST ditentukan oleh tiga hal :

 

  1. Pola hubungan antar neuron (disebut arsitektur jaringan)
  2. Metode untuk menentukan bobot penghubung (disebut metode training/learning/algoritma)
  3. Fungsi aktivasi

 

Sebagai contoh, perhatikan neuron Y pada gambar berikut.

 

Gambar 1.2

Y menerima input dari neuron x1,x2, dan x3 dengan bobot hubungan masing-masing adalah w1,w2,w3. ketiga impulse neuron yang ada di jumlahkan

net = x1w1+x2w2+x3w3

besarnya impulse yang diterima oleh Y mengikuti fungsi aktivitas  y=f(net). Apabila nilai fungsi aktivasi cukup kuat, maka sinyal akan diteruskan. Nilai fungsi aktivasi (keluaran model jaringan) juga dapat dipakai sebagai dasar untuk merubah bobot.

 

2.3  Aplikasi Jaringan Syaraf Tiruan

 

Beberapa aplikasi jaringan syaraf tiruan adalah sebagai berikut :

 

  1. Pengenalan Pola (pattern Recognition)

Jaringan syaraf tiruan dapat dipakai untuk mengenali pola (misal huruf, angka, suara atau tanda tangan) yang sudah sedikit berubah. Hal ini mirip dengan otak manusia yang masih mampu mengenali orang yang sudah beberapa waktu tidak di jumpainya (mungkin wajah/bentuk tubuhnya sudah sedikit berubah).

 

  1. Signal Processing

Jaringan syaraf tiruan (model ADALINE) dapat dipakai unuk menekan noise dalam saluran telepon.

 

  1. Peramalan

Jaringan syaraf tiruan juga dapat dipakai untuk meramalkan apa yang sudah terjadi di masa yang akan datang berdasarkan pola kejadian yang ada di masa lampau. Ini dapat dilakukan mengingat kemampuan jaringan syaraf tiruan untuk mengingat dan membuat generalisasi dari apa yang sudah ada sebelumnya.

 

Disamping area-area terebut, jaringan syaraf tiruan juga di laporkan dapat menyelesaikan masalah dalam bidang kontrol, kedokteran, dan lain-lain.

 

Meskipun banyak aplikasi menjanjikan yang dapat di lakukan oleh jaringan syaraf tiruan juga memiliki beberapa keterbatasan umum, namun jaringan syaraf tiruan juga memiliki beberapa keterbatasan umum. Pertama adalah ketidak akuratan hasil yang di peroleh. Jaringan syaraf tiruan bekerja berdasarkan pola yang terbentuk pada inputnya.

 

2.4 Arsitektur Neural Network

 

Secara umum, terdapat tiga jenis neural network yang sering digunakan berdasarkan jenis network-nya, yaitu :

  • Single-Layer Neural Network
  • Multilayer Perceptron Neural Network
  • Recurrent Neural Networks

 

 

 

 

 

 

 

2.4.1 Single-Layer Neural Network

 

  • Neural network jenis ini memiliki koneksi pada inputnya secara langsung ke jaringan output.
  • Jenis neural network ini sangatlah terbatas, hanya digunakan pada kasus-kasus yang sederhana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4.2 Recurrent Neural Network

 

  • Neural network jenis ini memiliki ciri, yaitu adanya koneksi umpan balik dari output ke input.
  • Kelemahan dari jenis ini adalah Time Delay akibat proses umpan balik dari output ke titik input.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.5 Proses Pembelajaran pada Neural Network

 

Proses pembelajaran merupakan suatu metoda untuk proses pengenalan suatu objek yang sifatnya kontinuitas yang selalu direspon secara berbeda dari setiap proses pembelajaran tersebut. Tujuan dari pembelajaran ini sebenarnya untuk memperkecil tingkat suatu error dalam pengenalan suatu objek. Secara mendasar, neural network memiliki sistem pembelajaran yang terdiri atas beberapa jenis berikut :

 

  • Supervised Learning

Sistem pembelajaran pada metoda Supervised learning adalah system pembelajaran yang mana setiap pengetahuan yang akan diberikan kepada sistem, pada awalnya diberikan suatu acuan untuk memetakan suatu masukan menjadi suatu keluaran yang diinginkan. Proses pembelajaran ini akan terus dilakukan selama kondisi error atau kondisi yang diinginkan belum tercapai. Adapun setiap perolehan error akan  dikalkulasikan untuk setiap pemrosesan hingga data atau nilai yang diinginkan telah tercapai.

 

  • Unsupervised Learning

Sistem pembelajaran pada neural network, yang mana sistem ini memberikan sepenuhnya pada hasil komputasi dari setiap pemrosesan, sehingga pada sistem ini tidak  membutuhkan adanya acuan awal agar perolehan nilai dapat dicapai. Meskipun secara mendasar, proses ini tetap mengkalkulasikan setiap langkah pada setiap kesalahannya dengan mengkalkulasikan setiap nilai weight yang didapat

 

 

2.6 Arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan

 

Berdasarkan strategi pelatihan, model jaringan dibagi menjadi :

  1. Pelatihan dengan supervisi.

Contoh model ini adalah : Hebbian, Perceptron, ADALINE, Boltzman, Hopfield, Backpropagation,dll.

  1. Pelatihan tanpa supervise

Contoh model yang masuk dalam kategori ini antara lain model competitive, Hebbian, Kohonen, LVQ (Learning Vektor Quantization),Neocognitron,dll.

 

3.  Aplikasi Model ADALINE

 

Model ADALINE (Adaptive Linear Neuron) ditemukan oleh Widrow dan Hoff (1960). Beberapa masukan dan sebuah bias (unit masukan tambahan) dihubungkan langsung dengan sebuah neuron keluaran. Bobot dimodifikasi dengan aturan delta (sering juga disebut least mean square). Selama pelatihan, fungsi aktivasi yang dipakai adalah fungsi identitas.

 

net = ∑ xi wi + b

i

y = f(net) = net = ∑ xi wi + b

i

 

Kuadrat selisih antara target (t) dan keluaran jaringan (f (net)) merupakan error yang terjadi. Dalam aturan delta, bobot dimodifikasi sedemikian hingga errornya minimum.

 

E = (t-f(net))2 = ( t- ( ∑ xi wi + b))2

i

E merupakan fungsi bobot wi. Penurunan E tercepat terjadi pada arah

 

δE

—–  =  -2 (-t(∑ xi wi + b))x1 = -2(t-y)x1 . Maka perubahan bobot adalah :

δw1 i

 

Δw1 = α (t-y)x1 dengan  α merupakan bilangan positip kecil (umumnya diambil = 0,1)

 

Algoritma pelatihan ADALINE adalah sebagai berikut :

  1. Inisialisasi semua bobot dan Bias (umumnya w1= b = 0)

Tentukan laju pemahaman (=α). Untuk penyederhanaan biasanya ά diberi nilai kecil (=0.1)

  1. selama max Δwi > batas toleransi, lakukan :

i

    1. Set aktivasi unit masukan xi = si (i=1,…,n)
    2. Hitung respon unit keluaran : net = ∑ xi wi + b

i

y = f(net) = net

    1. Perbaiki bobot pola yang mengandung kesalahan (y≠t) menurut persamaan :

w1(baru) = w1(lama) + α (t-y)x1

b (baru) = b (lama) + α (t-y)

 

setelah proses pelatihan selesai, ADALINE dapat dipakai untuk pengenalan pola.untuk itu, umumnya dipakai fungsi treshold bipolar (meskipun tidak menutup kemungkinan digunakan bentuk lainnya). Caranya sebagai berikut:

  1. Inisialisasi semua bobot dan bias dengan bobot dan bias hasil pelatihan.
  2. Untuk setiap input masukan bipolar x, lakukan :

a.       Set aktivasi unit masukan x1 = s1 ( i=1, …,n)

b.      Hitung net vektor keluaran :

net = ∑ xi wi + b

i

c.       kenaikan fungsi aktivasi :

 

y = 1    jika net ≥ 0

-1   jika net < 0

 

3.1 Pembentukan Jaringan

 

Pertama-tama, jaringan ADALINE harus di bentuk dengan menggunakan perintah newlin (singkatan dari new linear filter) perintah newlin akan membentuk ADALINE dengan spesifikasi tertentu(jumlah unit input, jumlah neuron, fungsi aktivasi, dll). Bentuk fungsi newlin adalah sebagai berikut :

 

net = newlin (PR,S,ID,IR,LR)

dengan

 

PR  :   matriks R x 2 yang berisi nilai minimum dan maksimum elemen masukan R.

S     :   jumlah elemen vektor keluaran.

ID    :   vektor delay masukan (default = [0]).

LR   :   laju pemahaman  (default  α =  0.01).

 

Dan menghasilkan sebuah ADELINE (dalam matlab disebut layar linear) baru.

 

Laju pemahaman dapat diatur dari perintah newlin (dengan cara memberi nilai pada parameter LR) atau dari parameter train.

 

Perintah newlin juga akan menset bobot dan bias awal ke 0. seperti pada perceptron, untuk mengubahnya dapat digunakan penugasan terhadap net.IW(i,j) dan net.b {i}. Indeks i dan j dalam net.IW(i,j) menunjukan bobot awal dari layar –j ke layar –i. Dalam ADALINE hanya ada sebuah layar masukan dan keluaran, sehingga net.IW  {1,1} menunjukan bobot awal dari layar masukan ke neuron targetnya.

 

Jika di jalankan, maka matlab akan menampilkan struktur jaringan default yang terbentuk.

 

Misalkan ada 2 buah unit masukan dan 1 buah neuron target dengan bobot seperti gambar 14.1 misalkan pula kedua masukannya memiliki range (0,10). Maka perintah yang sesuai adalah :

 

 

 

 

4

 

2

 

3

 

 

 

Gambar 14.1

 

net  =  newlin ( [0    10  ;   0    10],1)

 

net.IW  {1,1}  =  [2  3]

 

net.b    {1}      =   [-4]

 

Contoh 14.1

Bentuklah perceptron untuk mengenali pola fungsi logika “dan” 2 variabel x1 dan x2 dengan masukan dan target bipolar.

 

Penyelesaian

Fungsi logika “dan” dengan 2 variabel bipolar memiliki range nilai masukan [-1,1], dan sebuah target. Maka perintah yang di buat adalah

net   =   newlin   ( [-1    1   ;    -1     1] ,1)

Parameter [-1 1;-1 1] menunjukan bahwa kedua unit masukan x1, dan x2 memiliki range  [-1,1].  Parameter s =1 menunjukan bahwa jaringan hanya memiliki sebuah target (dalam matlab, target disebut neuron)

Jaringan yang terbentuk memiliki bobot awal, bias, perubahan bobot, dll yang mengikuti defaultnya.

 

3.2 Pembentukan Vektor Masukan Dan Target

 

Setelah membentuk ADALINE, berikutnya harus di tentukan pola masukan dan target yang akan dikenali. Masing-masing masukan dan keluaran berupa vektor kolom. Perhatikan bahwa jumlah unit tiap pola masukan serta range nilainya harus sesuai dengan spesifikasi ADALINE yang di buat.

 

Contoh 14.2

Buatlah vektor masukan-keluaran ADALINE contoh 14.1

 

Penyelesaian

 

Fungsi logika “dan” memiliki 4 pola masukan masing-masing masukan terdiri dari 2 unit) sebagai berikut :

 

Pola masukan masukan target
P1 1

1

1
P2 1

-1

-1
P3 -1

1

-1
P4 -1

-1

-1

 

net =  newlin ( [-1    1  ;  -1    1], 1 )

p    =   [  [1  ;  1]   [1  ;  -1]   [-1  ;  1]   [-1  ;  -1]  ]

t     =   [1   -1   -1   -1]

 

 

 

3.3 Menghitung Keluaran ADALINE

 

Setelah pola masukan di berikan, kita dapat menghitung keluaran ADALINE. Perintah matlab yang dipakai sama seperti model perceptron :

 

[Y,Pf,Af,E,perf]  =  sim (net, P,Pi,Ai,T)

Dengan parameter masukan

 

net        :   nama jaringan dalam perintah Newlin.

P          :   kondisi delay awal masukan. Default  =  zeros.

Pi         :   kondisi delay layar. Default  =  zeros.

T          :   Vekor target jaringan. Default   =  zeros.

 

Dan parameter hasil

 

Y          :    keluaran jaringan.

Pf         :    kondisi akhir delay masukan.

Af         :    kondisi akhir delay layar.

E          :    Error jaringan  =  T – Y.

 

Perf      :    unjuk kerja jaringan.

 

Pi, Ai, Pf, Af hanya dipakai bagi jaringan yang memiliki delay masukan dan layar. Untuk sekedar menghitung keluaran jaringan, dapat di pakai statemen sederhana

 

y  =  sim (net, p) ;

 

perhatikan bahwa untuk menghitung keluaran jaringan, kita tidak perlu mengetahui targetnya. Akan tetapi jika ingin di hitung error yang terjadi (selisih antara target dengan keluaran jaringan), maka harus diketahui targetnya.

 

Contoh 14.3

 

Hitunglah keluara jaringan contoh 14.1 dengan pola masukan seperti pada contoh 14.2, menggunakan bobot awal w1 = 2, w2 = 3 dan bias = -4

 

Penyelesaian

net  =  newlin ( [ -1    1  ;  -1   1 ], 1 ) ;

p =  [ [ 1  ;  1 ] [ 1  ;  -1] [ -1  ;  1] [ -1 ;  -1] ] ;

t  =  [1   -1   -1   -1] ;

net.IW { 1 , 1}  =  [2   3];

net.b  {1}  =  [-4];

a  =  sim  (net,p)

 

Diperoleh hasil

 

a =     1            -5         -3         -9

 

 

perhatikan bahwa untuk menghitung keluaran jaringan tidak di butuhkan vektor target.

Vektor a merupakan keluaran jaringan untuk p1 hingga  p4 dengan menggunakan bobot dan bias masing-masing = [2 3] dan [-4]. Fungsi aktivasi yang dipakai dalam ADALINE adalah fungsi identitas. f(net) = net. Perhitungan manualnya tampak pada tabel 14.2. hasil f(net) di tampilkan oleh matlab dalam variabel a di atas.

 

Tabel

Pola Masukan 2

net = ∑ pi wji +b

i=1

f (net) =

net

P1 = 1

1

1 (2) + 1 (3) – 4 = 1 1
P2 = 1

-1

1 (2) + – 1 (3) – 4 = -5 -5
P3 = -1

1

-1 (2) + 1 (3) – 4 = -3 -3
P4 = -1

-1

-1 (2) + -1 (3) – 4 = 1 -9

 

Perintah sim(net,p) diatas hanya menampilkan hasil keluaran jaringan (f(net)) pada tabel diatas. Jika ingin menampilkan besarnya error dan unjuk kerja yang terjadi, maka parameter perintah sim ditambah sebagai berikut :

 

[a,Pf,Af,e,perf] = sim (net,p,[],[],t)

 

Perhatikan bahwa dalam kasus ini tidak dibutuhkan delay, sehingga parameter Pi dan Ai dikosongkan. Akan tetapi dibuthkan target keluaran (variabel t) untuk menghitung error.

 

Jika perintah tersebut dijalankan, akan diperoleh hasil :

 

>> [a,Pf,Af,e,perf] = sim (net,p,[],[],t)

a =

1  -5  -3  -9

Pf =

[]

Af=

[]

e =

0  4  2  8

perf =

21

 

3.4 Modifikasi Bobot dan Bias

 

Untuk mengubah bobot dan bias digunakan perintah learnwh (learn Windrow-Hoff ) yang formatnya adalah sebagai berikut :

 

[dW,LS] = learnwh (W,P,Z,N,A,T,E,gW,gA,D,LP,LS )

[dW,LS] = learnwh (b,ones(1,Q)W,P,Z,N,A,T,E,gW,gA,D,LP,LS )

 

Dengan

 

W : matriks bobot (matrik bias)

P : vektor masukan

Z : vektor masukan dengan bobot

N : vektor masukan net

A : vektor keluaran

T : vektor layar target

E : vektor layar error

gW : gradien bobot terhadap unjuk kerja

gA : gradien keluaran terhadap unjuk kerja

D : jarak neuron

LP : parametar pemahaman

LS : state pemahaman

 

Untuk ADALINE sederhana, parameter yang perlu diberikan hanyalah W, E, dan P (yang didapat dari sim (net,p) – t).

 

3.5 Pelatihan ADALINE

 

Error dihitung berdasarkan rata-rata kuadrat kesalahan terkecil (least mean square error) yang diperkenalkan oleh Windrow dan Hoff. Oleh karena itu model ADALINE sering juga disebut model Windrow-Hoff atau model LMS.

 

Rata-rata kuadrat kesalahan (MSE) dihitung dengan rumus :

 

MSE = 1/Q ∑ e2k = 1/Q ∑ ( tk – ak )2 dengan

 

Q = jumlah pola yang dihitung

tk = vektor target

ak = keluaran jaringan

ek =  tk – ak

 

Contoh 14.4

 

Hitunglah MSE untuk fungsi logika “dan” pada contoh 14.3

 

Penyeleseaian

 

Pada contoh 14.3, t = [1  -1  -1  -1] dan keluaran jaringan = a = [1  -5  -3  -9] sehingga error = =[0  4  2  8]

 

Maka MSE = ¼ (02 + 42 + 22 + 82) = 21

Contoh 14.5

 

Hitunglah bobot untuk mengenali fungsi logika “dan” menggunakan bobot dan bias awal seperti contoh 14.3

 

Penyelesaian

 

Jika dalam contoh 14.3 ditambahkan perintah train (net,p), diperoleh hasil :

 

>> train (net,p)

TRAINB, Epoch 0/100, MSE 29/0.

TRAINB, Epoch 25/100, MSE 3.76669/0.

TRAINB, Epoch 50/100, MSE 0.489239/0.

TRAINB, Epoch 75/100, MSE 0.0635452/0.

TRAINB, Epoch 100/100, MSE 0.00825362/0.

TRAINB, Maximum epoch reached.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Default perintah train pada ADALINE adalah jumlah epoch = 100, dan error = 0. Iterasi akan dihentikan jika salah satunya tercapai.

 

Umumnya error = 0 tidak pernah tercapai. Orang akan puas jika errornya cukup kecil dan dapat diabaikan.

 

Akan tetapi bobot setelah iterasi tidak dapat diperoleh. Untuk menyimpan perubahan bobot maka digunakan perintah :

 

>> net = train (net,p,t)

 

Hasilnya

 

TRAINB, Epoch 0/100, MSE 21/0.

TRAINB, Epoch 25/100, MSE 2.94513/0.

TRAINB, Epoch 50/100, MSE 0.600059/0.

TRAINB, Epoch 75/100, MSE 0.295468/0.

TRAINB, Epoch 100/100, MSE 0.255906/0.

TRAINB, Maximum epoch reached.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bobot hasil iterasi bisa ditampilkan dengan perintah disp

 

>>disp (net.iw{1,1})

0.5253     0.5422

>>disp (net.b{1})

-0.5590

 

Keluaran jaringan setelah iterasi dilakukan dapat diketahui dengan perintah sim

 

>>sim (net,p)

Dan error yang terjadi = t – sim (net,p) :

 

>> t – sim (net,p)

ans =    0.4916  -0.4241  -0.4578  0.6265

 

Maka MSE = ¼ (0.49162 + -0.42412 + -0.45782 + 0.62652) = 0.2559

Seperti yang ditampilkan pada MSE epoch 100.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Tn. N DENGAN KURANG GIZI

  1. I. PENGKAJIAN

Hari / Tanggal              : Kamis, 11 Mei 2006                          Waktu                    : 10.00 WIB

Metode                          : Wawancara, Observasi, Pemeriksaaan Fisik

  1. A. Data Keluarga
    1. Identitas Keluarga
      1. Nama KK                                               : Tn. N
      2. Jenis Kelamin                                      : Laki-laki
      3. Umur                                                      : 33 Tahun
      4. Pendidikan                                           : SLTP
      5. Pekerjaan                                             : Buruh
      6. Alamat   : Rt 07 RW 37, Maguwoharjo, Depok, Sleman
      7. Susunan Anggota Keluarga
No. Nama Hubungan Sex Umur Pendidikan Agama Ket.
1. Ny N Ibu P 58 th SLTP Islam  
2. An. A Anak Kandung L 9 th SD Islam  
3. An. D Anak Kandung P 5 th Islam  
4 An. R Anak Kandung L 3 th Islam  
5 Tn A Keponakan L 20 th SLTP Islam  
6 Nn. T Keponakan P 25 th SMEA Islam  

 

  1. Genogram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

: BGM                                                                             : Laki – laki

: Perempuan                                                                     : Jantung

: Kanker payudara

: garis perkawinan                                                     : garis keturunan

: tinggal dalam satu rumah                                     : meninggal

 

 

  1. Type Keluarga                             : Keluarga Eksteded
  2. Suku / Kebangsaan                    : Jawa
  3. Agama                                           : Islam
  4. Status Sosial Ekonomi
  5. Kegiatan Organisasi

Keluarga Tn. N termasuk keluarga yang aktif dalam organisasi di masyarakat. Tn. N ikut dalam kegiatan pengajian, arisan dll Begitu pula dengan Ny. N aktif dalam kegiatan kemasyarakat.

  1. Keadaan Ekonomi

Keluarga Tn. N termasuk keluarga sejahtera III karena keluarga sudah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan kebutuhan social psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi, namun belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan menabung dan memperoleh informasi.

  1. Aktivitas Rekreasi Keluarga

Keluarga jarang mengikuti kegiatan rekreasi keluar rumah, Ny. N Beralasan karena ekonomi mereka paspasan, sedangkan rekreasi di dalam rumah seperti menonton TV bersama-sama.

 

Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

  1. Tahap Perkembangan Keluarga : Keluarga dengan anak sekolah
  2. Riwayat Keluarga Inti

An. R

An. R sudah menderita BGM sejak kecil hingga berumur 3 tahun dan An. R sering sakit-sakitan. Dalam penimbangan diketauui bahwa nilai Z-score BB/U  untuk an. R adalah – 3,2 ini termasuk dalam kategori BB di bawah garis normal.  An. R sewaktu lahir cukup bulan. Waktu kecil An. R tidak diberi imunisasi lengkap hanya sewaktu lahir. Ny. N, mengatakan bahwa Ny  memang tidak mengimunisasi karena waktu itu keadaannya repot. Dari kecil dan mulai bayi, anak R sering sakit-sakitan (batuk, pilek). Dalam beberapa hari ini pipinya bengkak seperti sakit gigi, namun ternyata terdapat benjolan di langit-langit mulutnya.  Ketika dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan :

KU                  : Baik Compos mentis

Tanda-tanda vital        : Suhu badan 38o C, RR 24x /menit, Nadi 80x/menit

Kepala                           : mata, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Wajah                            : terlihat bengkak pada sebelah pipi kiri

Hidung                           : normal, lubang nares simetris

Telinga                          : bersih tidak ada kelainan

Mulut                              : pada langitlangit mulut terdapat benjolan

Leher                             : tidak ada peningkatan JVP

Thorax                           : simetris, pernafasan vesikuler

Abdomen                      : supel, H/L ttb, peristaltic usus (+)

Ektremitas                     : kedua ekstremitas tidak ada kelainan

TB                                   : 78 cm

BB                                   : 10 Kg

LLA                 : 13 cm

LK                                   : 46 cm

LD                                   : 46 cm

 

An. D

An. D jarang sekali sakit, namun saat di timbang berat badannya kuang dari normal yang seharusnya 19,2 hanya 12 kg. Dalam perhitungan status gizi an. D termasuk dalam status gizi kurang dengan nilai Z-skore BB/U adalah -3,3.

Ketika dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan :

KU                  : Baik Compos mentis

Tanda-tanda vital        : Suhu badan 37,5o C, RR 16x /menit, Nadi 76x/menit

Kepala                           : mata, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Wajah                            : terlihat bengkak pada sebelah pipi kiri karena sakit gigi.

Hidung                           : normal, lubang nares simetris

Telinga                          : bersih tidak ada kelainan

Mulut                              : dalam batas normal, gigi terdapat caries.

Leher                             : tidak ada peningkatan JVP

Thorax                           : simetris, pernafasan vesikuler

Abdomen                      : supel, H/L ttb, peristaltic usus (+)

Ektremitas                     : kedua ekstremitas tidak ada kelainan

TB                                   : 88 cm

BB                                   : 12 Kg

LLA                 : 14 cm

LK                                   : 47 cm

LD                                   : 47 cm

 

  1. B. Pola Kesehatan Keluarga
    1. 1.       Kebersihan Diri

Kebiasaan personal hygiene keluarga untuk mandi biasanya 2-3 x sehari dengan sabun dan gosok gigi. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

  1. 2.       Penyakit Yang Pernah Diderita
  • §  Riwayat Penyakit Dahulu

Ny N mengatakan bahwa An. R memang dari kecil sering sakit-sakitan dan sudah menderita kurang berat badannya sejak kecil.

  • §  Riwayat Penyakit Keturunan

Saat di konformasi untuk riwayat penyakit jantung di derita oleh ayah dari suami serta untuk diabetes mellitus, ginjal, tidak di temukan ada penyakit keturunan.

  • §  Riwayat Penyakit Kronis

An. A menderita BGM (Bawah Garis Merah) sejak bayi kecil dan an. D juga dengan status gizi kurang.

  1. 3.       Pola Nutrisi

Kebiasaan keluarga untuk makan dan minum setiap anggota keluarga tidak sama. Tn. N makan 3 kali sehari dan minum yang tidak tentu tergantung dari aktivitas yang di lakukan oleh Tn. N biasanya 5-10 gelas perhari. Untuk Ny.N juga tidak pasti kadang lebih 3 kali karena harus menghabiskan makanan anaknya dan  untuk minum juga tidak tentu antara 5-8 gelas sehari.  Untuk anak-anak juga tidak pasti mereka akan makan jika lapar namun biasanya mereka minimal makan 3 kali sehari dan untuk si bungsu (An R) jarang sekali makan pada waktu sakit, namun jika sehat terkadang 4-5 kali sehari dengan di dukung lauk yang di sukai. Kebiasaan minum anak-anak tergantung aktivitas, ketika aktivitasnya banyak minumnya bisa lebih dari 6 gelas sehari biasanya berupa air putih, air teh dan susu.

  1. 4.       Pola Istirahat

Sebisa mungkin Keluarga Tn. N ini tidur siang. Untuk Tn. N tidak tidak siang karena harus bekerja. Untuk anak dan istri biasanya mereka tidur siang antar pukul 13.00 – 15.00 WIB. Untuk tidur malam biasanya anak-anak mulai tidur pukul 21.00 WIB. Ny.N tidur pada pukul 22.00 – 05.00 WIB sedangkan untuk Tn. N tidur pada pukul 23.00 – 05.00 WIB, begitu pula An. A dan An. D tidur sebelum pukul 21.00 dan bangun pada pukul 05.30.

  1. 5.       Pola Eliminasi

Tn. N biasa BAB 1X/hari, BAK tergantung banyaknya air yang di minum  kalau minumnya banyak BAK bisa lebih dari 3 X. Ny. BAB 1 x/hari dan untuk BAK 2-3 kali sehari. Untuk anak-anak tidak pasti An. E BAB 1 kali sehari, BAK 2-3 kali/hari. An D BAB 2 kali/hari, BAK 3-4 kali sehari. An. R masih toilet traning BABnya tidak pasti kadang 3 hari sekali, untuk BAK 3-5 kali/hari.

  1. 6.       Pola Aktivitas

Kegiatan yang biasa Tn. N lakukan adalah bekerja sebagai buruh. sedangkan Ny. N bisanya bekerja sebagai buruh pada malam hari dan siangnya mengurus anak-anaknya. Untuk anak pertamanya sudah sekolah di SD untuk anak ke 2 di TK dan anak 3 masih dalam pengawasan karena masih balita.

  1. 7.       Kesehatan Reproduksi

Tn. N mempunyai 3 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar. Tn. N sudah tidak pernah melakukan hubungan seksual lagi karena jika sudah pulang kerja capek dan juga karena beliau beranggapan sudah tua.

  1. 8.       Sumber Pelayanan Kesehatan Yang Biasa Digunakan Keluarga

Keluarga Tn. N jarang sekali dan hampir tidak pernah berobat ke puskesmas terdekat, mereka biasanya ke dokter terdekat karena mereka Ny,. N merasa repot tidak ada waktu untuk ke puskesmas selain itu kendaraan juga tidak ada. Karena anak-anaknya masih kecil, Ny. N memanfaatkan posyandu untuk memeriksakan anaknya setiap bulan.

 

 

 

  1. C. Pengkajian Lingkungan

1.)     Kharakteristik Rumah

Rumah Tn. N merupakan rumah milik pribadi dengan ukuran kurang lebih 60 m2. Termasuk rumah permanen, berdinding tembok lantainya dari semen. Mempunyai 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 dapur, 1 kamar mandi dan WC. Ventilasi rumah sudah mencukupi 10% dari total bangunan dan lingkungannya tampak sedikit kotor.

 

  1. a.       Denah Rumah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

: Pintu                                                                     : Kamar tidur

: Ruang Tamu                                                      : Dapur

: Halaman                                                             : Jalan Raya

: Jalan Kampung                                 : Halaman belakang

:  sumur                                                  : Rumah saudara

; Kamar mandi

 

  1. b.       Pembuangan Air Kotor

Ada septic tank dan pembuangan air limbah rumah tangga dengan kontruksi semi permanen yang terletak di belakang rumah. Saluran limbah menggunakan saluran limbah terbuka.

  1. c.        Pembuangan Sampah

Pembuangan sampah keluarga biasanya di letakkan ke dalam plastik kresek dan tidak di bedakan antara sampah terurai dan tidak terurai kemudian di buang ke lubanng sampah yang terletak di belakang rumah.

  1. d.       Sanitasi

Lingkungan rumah Tn. N tampak sedikit kotor dan berdebu, tidak memiliki pekarangan, rumah karena sudah berbatasan denngan jalan kampung.

  1. e.       Jamban Keluarga

Mempunyai jamban keluarga yang digunakan untuk ke tiga rumah dengan bentuk leher angsa dan terletak di luar rumah.

  1. f.         Sumber Air Minum

Keluarga memanfaatkan air sumur yang terletak di luar rumah dengan jarak antara sumur dengan jamban kurang dari 10 meter. Ini di sebabkan karena tidak ada pekarangan atau halaman lagi yang bias di manfaatkan.

2.)     Kharakteristik Tetangga dan Komunitas RW

Tetangga Tn. N termasuk tetangga yang baik, rasa kekeluargaan dan kegotong royongan tinggi dan selalu siap membantu keluarga Tn. N.

3.)     Mobilitas Geografi Keluarga

Keluarga Tn. N sudah lama tinggal di rumah tersebut tidak pernah pindah.

4.)     Sistem Pendukung Keluarga

Keluarga selalu mendapat dukungan oranng tuanya dan saudara-saudaranya, namun dari keluarga belum mendapatkan dukungan karena anak-anaknya masih kecil. Bila ada masalah kesehatan keluarga Tn. N selalu selalu di bawa ke dokter langganan mereka

  1. a.       Jarak Untuk Pelayanan Kesehatan Terdekat
  • §  puskesmas                        : kurang lebih 3 km
  • §  puskesmas pembantu     : kurang lebih 5 km
  • §  rumah sakit                        : kurang lebih 10 km
  • §  posyandu                           : kurang lebih 200 m
  1. b.       Fasilitas Sosial
  • §  masjid/mushola    : kurang lebih 200 m
  • §  pasar                                       : kurang lebih 1 km

 

  1. D. Struktur Keluarga
  • §  Cara Berkomunikasi Anggota Keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari keluarga berkomunikasi dengan bahasa jawa. Keluarga Tn. N merupakan keluarga yang terbuka, bila ada masalah selalu dikomunikasikan bersama,

  • §  Struktur Kekuatan Keluarga

Struktur kekuatan keluarga cenderung bersifat afektif, kekuasaan / sifat merubah perilaku keluarga timbul karena ada perasaan saling menyayangi. Dalam pengambilan keputusan dimusyawarahkan. Sebagai pengambil keputusan setelah sependapat adalah Tn. N sebagai kepala keluarga.

  • §  Struktur Peran

Peran Tn. N sebagai suami dan tulang punggung keluarga. Ny N sebagai istri dan sebagai ibu dari anak-anaknya dan apabila malam menjelang membantu suami mencukupi kebutuhan sehari-hari denngan menjadi buruh cuci di perumahan..

  • §  Nilai dan Norma Keluarga

Dalam keluarga tidak ada nilai dan norma khusus yang mengikat anggota keluarga. Untuk masalah kesehatanpun dalam keluarga tidak ada praktik yang harus dilakukan semua anggota keluarga. Sistem nilai yang dianut keluarga dipengaruh status sosial, agama.

  1. E. Fungsi Keluarga
  • §  Fungsi Afektif

Hubungan dalam keluarga Tn. N terjalin akrab, antara satu dengan yang lain saling mendukung, menghormati, membantu bila ada masalah.

  • §  Fungsi Perawatan Keluarga
  1. 1.       Kemampuan Keluarga Mengenal Masalah

Keluarga sudah tahu bahwa anak R berada pada kondisi kurang berat badannya, keluarga mengetahui dari posyandu dan waktu kecil tidak lengkap imunisasinya. Keluarga mengetahui ketidaklengkapan imnunisasi, namun waktu itu dalam kondisi repot sehabis pindahan dan mengurus anaknya yang nomer 2 sehingga tidak ada waktu ke fasilitas kesehatan sehingga anaknya tidak mendapatkan imunisasi.

  1. 2.       Kemampuan Keluarga Mengambil keputusan

Masalah yang terjadi pada keluarga ini sebenarnya sudah tahu, namun untuk mengambil keputusan yang belum optimal. Dibuktikan dengan tidak lengkapnnya imunisasi anak.

  1. 3.       Kemampuan Keluarga Merawat Anggota Keluarga Yang Sakit

Keluarga belum maksimal merawat anggota yang sakit. Ini di buktikan bahwa an. R masih berada di bawah garis merah pada KMSnya. Dengan usia 3,5 tahun anak mempunyai berat badan 9 kg. Sewaktu pengkajian pertama di dapatkan data bahwa An. R menderita panas dan terdapat bengkak pada langit-langit mulutnya sudah 1 mingu belum sembuh.

Waktu minggu ke dua nak eduanya sakit gigi dan hanya di kasih ponstan.

  1. 4.       Kemampuan Keluarga Memelihara Lingkungan Rumah

Pemanfaatan rumah Ny T belum maksimal. Keluarga menyadari pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan, meskipun menyadari namun belum di laksanakan secara maksimal. Rumah masih tampak berdebu, apabila hujan air masuk karena struktur rumah tidak tertutup semua. Depan rumah sudah jalan raya sehingga banyak sekali denu-debu yang berterbanngan. Halaman rumah tidak bias di manfaatkan hanya pot-pot kecil sebagi penambah indahny pemandangan.

  1. 5.       Kemampuan Keluarga Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan

Fasilitas yang di gunakan keluarga Tn. N adalah ke dokter terdekat dan menfaatkan kartu jamsostek serta ke posyandu.

  • §  Fungsi Reproduksi

Tn. N mempunyai 3 orang anak, salah satunya masih dalam usia sekolah dan anak kedua sekolah di TK serta anak ketiga masih balita

  • §  Fungsi Sosialisasi

Interaksi dalam keluarga terjalin dengan akrab. Dengan masyarakat juga akrab, saling tolong menolong bila ada masalah.

  • §  Fungsi Ekonomi

Tn. N sudah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak-anaknya.. Untuk Ny. N juga bekerja di malam hari sebagi buruh cuci. Untuk masalah ekonomi mereka berangapan sudah cukup hidup seperti ini walaupun pas-pasan namun jika di turuti masih kurang.

 

  1. F. Stres dan Koping Keluarga
  • §  Strategi Koping

Keluarga merasa apa yang terjadi merupakan kehendak Tuhan, Keluarga hanya bisa pasrah. Bila ada masalah tidak dibuat tegang agar tidak stress berusaha berpikir dengan pikiran dingin dan lebih santai.

  • §  Status Emosi

Tn. N termasuk orang yang tidak mudah untuk stress  begitu juga Ny. N.

 

  1. G. Persepsi Keluarga Terhadap Masalah

Keluarga mengganggap apa yang terjadi pada An. R adalah biasa namun segera mendapatkan penanganan. Keluarga akan mencari pelayanan kesehatan ketika ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan atau mereka akan mencari dokter terdekat atau langganan untuk berobat.Keluarga ini juga membeli obat di warung dan juga menggunakan jamu tradisional.

  1. II. ANALISA DATA
No. Data Masalah Penyebab Tipology
1. DS

  • o Ny. N mengatakan bahwa An. R sewaktu sakit sulit makannya.
  • o Ny. N mengatakan bahwa saat ini an. R sedang sakit panas dan terdapat bengkak pada langit-langit mulutnya sudah berlangsung 1 minggu.
  • o Ny. N tidak membawa ke puskesmas namun ke dokter terdekat dan di kasih bodrekxin.
  • o Ny. N tidak tahu penyebab sakit anaknya.
  • o Ny. N mengatakan bahwa pipi an. R kemaren bengkak sehingga di salonpas.

DO

  • o Rewel
  • o Suhu badan 38O C
  • o Terdapat bengkak berwarna merah pada langit-langit mulut
  • o Pada pipi tertempel salonpas
Manajemen terapeutik keluarga tidak efektif
  • o Ketidakmampuan mengenal masalah
  • o Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang sakit.
 

Actual

2. DS:

  • o Ny. N mengatakan BB anaknya 9,5 kg.
  • o Ny. N mengatakan An. R sejak kecil sudah sakit-sakitan dan badannya selalu kecil
  • o Ny. N sudah berusaha dengan datang ke posyandu setiap bulannya untuk mengontrol anaknya.
  • Ny. N tidak nanpu membawa beobat ke bidan karena tersangkut masalah biaya
  • o Ny. N mengatakan bahwa An. D tidak pernah sakit, jika sakit hanya di kerok dan di beri obat dari warung.
  • o Ny. N setelah tidak terdaftar dalam posyandu jarang dan hampir tidak pernah menimbang an. D lagi
  • o Ny. N tidak tahu BB an. D

DO:

Anak R

  • o BB 10kg
  • o LLA 13 cm
  • o LK 46 cm
  • o LD 46 cm
  • o Berada pad BGM di KMS

 

Anak D

  • o BB 12 Kg
  • o LLA 14 cm
  • o LK 47 cm
  • o LD 47 cm
  • o Z-score BB/U di bawah garis normal: -3,3
Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan
  • o Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
  • o Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
Actual
3. DS

  • o Ny. N menngatakan masih menyusui an. R karena masih iba terhadap anaknya.
  • o Ny. N mengatakan ankanya sekarang berumur 3 tahun 5 bulan.
  • o Ny. N akan menyapihnya apabila anaknya sudah sehat.
  • o Ny. N belum melakukan upaya untuk menyapih anaknya.
  • o Ny. N mengatakan bahwa anaknya juga minum susu dan juga air putih.

DO

  • o An. R masih menyusu ASI
Manajemen terapeutik keluarga tidak efektif
  • o Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan

 

Actual
4
  • o Ny. N mengatakan An. R Imunisasinya tidak lengkap cuma sewaktu lahir saja yang di karenakan kerepotan Ny. N dan jauhnya fasilitas kesehatan selain itu juga karena tidak ada yang mengantar karena kendaraan yang tidak ada.
  • o Ny. N sekarang mnyesal tidak mengimunisasi An. R sewaktu kecil
  • o Ny. N berusaha mengimunisasi sesudah anak R besar.
Ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik keluarga.
  • o Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
  • o Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
  • o Ketidakmampuan keluarga menggunkan fasilitas kesehatan
Actual
5
  • o Ny. Mengatakan bahwa An. D sakit gigi sampai bengkak pipinya.
  • o Ny. N sudah membelikan obat ponstan untuk anaknya
  • o Ny. N tidak memeriksakan ke pelayanan kesehatan karena di anggap wajar dan nantinya sembuh sendiri
  • o Ny. N mengatakan bahwa sudah membersihkan gigi anaknya dengan di sikat.

DO

  • o Bengakak pada pipi An D
  • o Gigi berlubang
Nyeri akut
  • o Ketidakmampuan mengenal masalah
  • o Ketidakmampuan mengambil keputusan
  • o Ketidakmampuan menggunkan fasilitas kesehatan
Actual

  1. III. SKALA PRIORITAS MASALAH
Diagnosa I

Ketidak efektifan manajemen keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah

Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang sakit

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : actual 3/3 X 1 1 Ny. N mengatakan bahwa saat ini anak. R sedang sakit panas dan terdapat bengkak pada langit-langit mulutnya sudah berlangsung 1 minggu suhu badan anak R 38o.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: Sebagian ½ X 2 1 Tehnologi kesehatan yang berkembang pesat, sumber daya dan dana yang terbatas, pemahaman keluarga tentang penyakit terbatas , waktu dan tenaga yang hamper tidak ada serta ketidakmauan keluarga dalam hal transportasi
3. Potensial masalah untuk dicegah: tinggi 3/3 X 1 1 Masalah ini belum lama terjadi dan keluarga sudah berupaya merawat dan mengobati sendiri anggota yang sakit dengan memeriksakan diri ke dokter terdekat
4. Menonjolnya masalah: masalah perlu segera ditangani 2/2 X 1 1 Keluarga merasa masalah harus segera ditangani agar An. R cepat sembuh
  Jumlah   4  
Diagnosa 2:

  • o Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : resiko 2/3 X 1 2/3 Ny N mengatakanbawa anaknya dari kecil nerat badannya kurang ( dalam usia 3 tahun BBnya 9,5 Kg). dan anak D dengan BB 12 kg.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: Sebagian ½ X 2 1 Sumber daya keluarga segian ada, fasilitas kesehatan dekat, dana keluarga kurang, waktu dan tenaga hampir tidak ada, ketidakmampuan dalam transportasi
3. Potensial masalah untuk dicegah: Tinggi 3/3 X 1 1 Masalah ini sudah lama, memanfaatkan fasilitas kesehatan (posyandu), berusaha memenuhi kecukupan gizi keluarga.
4. Menonjolnya masalah: masalah perlu segera ditangani 2/2 X 1 1 Keluarga menginkan agar An. R segera normal badannya.
  Jumlah   3 2/3  
Diagnosa 3:

  • o Manajemen terapeutik keluarga tidak efektif behubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : resiko 2/3 X 1 2/3 Ny. N mengatakan An. R masih menyusu ASI walupun umurnya sudah 3 thaun 5 bulan dan belum di sapih.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: mudah 2/2 X 2 2 Waktu dan tenaga ada,
3. Potensial masalah untuk dicegah: Tinggi 3/3 X 1 1 Masalah ini sudah lama, memanfaatkan fasilitas kesehatan (posyandu),  sumber daya tenaga dan waktu ada.
4. Menonjolnya masalah: ada masalah tidak segera ditangani 1/2 X 1 1/2 Keluarga menginginkan agar segera tidak menyusui lagi An. R namun masih iba melihatr kondisi an. R sehinga masih di susui.
  Jumlah   4 1/6  
Diagnosa 4

Nyeri akut berhubungan dengan Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, ketidakmampuan keluarga menggunkan fasilitas kesehatan

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : Actual 3/3 X 1 1 An. D sedang sakit gigi dan pipinya bengkak.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: Sebagian ½ X 2 1 Tehnologi kesehatan yang berkembang pesat, sumber daya dan dana yang terbatas, pemahaman keluarga tentang penyakit terbatas , waktu dan tenaga yang hamper tidak ada serta ketidakmauan keluarga dalam hal transportasi
3. Potensial masalah untuk dicegah: tinggi 3/3 X 1 1 Masalah ini belum lama terjadi dan keluarga sudah berupaya merawat dan mengobati sendiri anggota yang sakit dengan memeriksakan diri ke dokter terdekat
4. Menonjolnya masalah: masalah perlu segera ditangani 2/2 X 1 1 Keluarga merasa masalah harus segera ditangani agar An. D cepat sembuh
  Jumlah   4  
Diagnosa 5

Ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah, ketidakmampuan mengambil keputusan, ketidakmampuan menggunkan fasilitas kesehatan

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : actual 33 X 1 1 An. R hanya di imunisasi saat lahir saja.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: tidak dapat 0/2 X 2 0 sumber daya dan dana yang terbatas, waktu dan tenaga yang hamper tidak ada serta ketidakmauan keluarga dalam hal transportasi, Anak sudah berusia 3 tahaun.
3. Potensial masalah untuk dicegah: rendah 1/3 X 1 1/3 Masalah sudah lama terjadi dan keluarga sudah berupaya merawat dan mengobati  anggota keluarga, ana rusah berumur 3 tahun.
4. Menonjolnya masalah: ada masalah tidak segera di tangani 1/2 X 1 1/2 Keluarga sudah mencari jalan keluar agar anaknya di imunisasi dengan usianya yang lebih dari 3 tahun ini.
      1 5/6  

 

Diagnosa prioritas:

  1. 1.       Manajemen terapeutik keluarga tidak efektif behubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
  2. 2.       Ketidak efektifan manajemen keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang sakit
  3. 3.       Nyeri akut berhubungan dengan Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, ketidakmampuan keluarga menggunkan fasilitas kesehatan
  4. 4.       Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
  5. 5.       Ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah, ketidakmampuan mengambil keputusan, ketidakmampuan menggunkan fasilitas kesehatan

 

 

  1. IV. RENCANA KEPERAWATAN
No Dx Tupan Tupen Kriteria Evaluasi Standar Evaluasi Intervensi
1 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan keluarga dapat mengambil keputusan untu menyapih balitanya Setelah dilakukan  5 X kunjungan keluarga dapat :

  1. Memahami tentang ASI
    1. Memahami waktu pemberian ASi yang tepat
    2. Menyapih balitanya
Verbal psikomotor Keluarga dapat:

  • memahami tentang ASI
  • memahami tetang waktu  pemberian ASI
  • mampu menyapih balitanya

 

Keluarg amampu mengambil keputusan untuk menyapih balitanya.

Jelaskan dan diskusikan tentang hipertensi :

–          ASI

–          Waktu pemberian ASI

 

Motivasi keluarga untuk menyapih Balitanya.

2 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan keluarga dapat melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan tidak terjadi komplikasi Setelah dilakukan  5 X kunjungan keluarga dapat :

  1. Mengenal masalah kesehatan yang terjadi
  2. Memahami tentang penyakit demam dan cara penangannan anak demam

 

 

 

Status verbal psikomotor Keluarga memahami tentang :

  • Pengertian demam
  • Tanda dan gejala
  • Factor yang mempengaruhi
  • Cara pencegahan

 

Keluarga dapat mengenali masalah yang terjadi

 

Keluarga dapat merawat anggota keluarga yang sakit.

Jelaskan dan diskusikan tentang demam :

  • Pengertian
    • Tanda dan gejala
    • Factor yang mempengaruhi
    • Cara pencegahan

 

Lakukan pemeriksaan TTV

 

Jelaskan dan demontrasikan penanganan demam

Motivasi kelaurga untuk membawa ke pelayanan kesehatan apabila tidak sembuh.

3 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan nyeri hilang Setelah dilakukan 2 x kunjungan keluarga dapat mengenal tentang caries, tanda dan gejala serta penangan dari caries.

keluarga dapat mengenal masalah,

Keluarga mampu mengambil keputusan.

Keluarga mampu menggunkan fasilitas kesehatan.

Verbal Psikomotor Keluarga memahami tentang caries:

  • Pengertian
  • Tanda dan gejala
  • Cara pencegahan
  • Penanganan

 

keluarga dapat mengenal masalah

 

Keluarga mampu mengambil keputusan

 

Keluarga mampu menggunkan fasilitas kesehatan

Jelakan dan diskusikan tentang caries

  • Pengertian
  • Tanda dan gejala
  • Cara pencegahan
  • penatalaksanaan

Lakukan pemeriksaan gigi

Motivasi keluarga untuk membawa ke fasilitas kesehatan

4 Setelah dilakukan perawatan selam 1 bulan, BB anak bertambah Setelah dilakukan 5 kali kunjungan keluarga mengetahui tentang

pertumbuhan dan perkembangan:

a. Pengertian

b. Tahap perkembanngan

c.  Pertumbuhan dan perkemabnag yang normal

 

Setelah dilakukan kunjungan sebanyak 5 kali keluarga memahami tentang gizi:

  1. Pengertian
  2. Gizi seimbang
  3. AKG
  4. Masalah gizi
Verbal Psikomotor keluarga mengetahui tentang

pertumbuhan dan perkembangan:

  1. Pengertia
  2. Tahap perkembanngan
  3. Pertumbuhan dan perkemabang yang normal

 

keluarga memahami tentang gizi:

  1. Pengertian
  2. Gizi seimbang
  3. AKG
  4. Masalah gizi

 

 

Jelaskan dan diskusikan mengeani

pertumbuhan dan perkembangan:

  1. Pengertian
  2. tahap perkembanngan
  3. pertumbuhan dan perkemabang yang normal

 

Jelaskan diskusikan mengenai  gizi:

  1. Pengertian
  2. Gizi seimbang
  3. AKG
  4. Masalah gizi

 

Ukur BB, TB, LK, LD, LLA

 

5 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan, Ibu mengertia akan pentingnya imunisasi Setelah dilakukan 5 kali kunjungan keluarga mengetahui tentang

Imunisasi:

  1. Pengertian
  2. Tujuan imuniaasi
  3. Macam-macam imunisasi dan manfaatnya

 

 

Verbal Psikomotor Keluarga mengetahui tentang

Imunisasi

  1. Pengertian
  2. Tujuan imuniaasi
  3. Macam-macam imunisasi dan manfaatnya

 

 

 

Jelaskan dan diskusikan mengenai imunisasi:

  1. Pengertian
  2. Tujuan imuniaasi
  3. Macam-macam imunisasi dan manfaatnya

 

 

 

 

 

 

  1. V.       IMPLEMENTASI
    1. Ketidak efektifan manajemen keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang sakit
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Jumat, 11 Mei 2006 w  Kunjungan pertama dan perkenalan

w  pengkajian

S

 

O

 

 

A

P

Ny. N mengtakan senang sekali kami datang.

Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Penerimaan  yang baik.

Masalah belum ditemukan

Lakukan pencarian

Senin 14 Mei 2006 ¨       Pengkajian tahap dua

¨       Menganjurka untuk periksa ke pelayanan kesehatan

¨       Mengukur suhu badan

¨       Mengajarkan cara mengkompres

 

S

 

 

 

O

 

A

P

Ny. T mengatkan nanti akan membawa ke dokter.

Ny. T mengatakana akan menkompres anaknya

Mengonpres, langit-langit mulut tersapat benjolan.

Masalah teratasi sebagia

Lanjutkan intervensi

Selasa 15 Mei 2006 ¨       Memberikan susu

¨       Mengkaji gizi kelurga

¨       Terapi bermain untuk anak agar mau makan dengan bonekadan truk

S

 

O

 

 

A

P

Ny. T mengatakan nakanya susah makan

Anak mau makan, bermain Cuma sebentar, banyak di gensongan, rewel

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

Rabu

24 Mei 2006

¨       Terapi bermain boneka dan truk

¨       Evaluasi

S

 

O

 

A

P

An. R mengatkan ambil boneknya di buat lucu

Tertawa, mendekat, meberikan bonekanya

Masalah teratasi

pertahankan

Nyeri akut berhubungan dengan Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, ketidakmampuan keluarga menggunkan fasilitas kesehatan

Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Rabu,

24 Mei 2006

¨       Mengkaji nyeri An. D

¨       Menganjurkan untuk sikat gigi

¨       Menganjurkan kepada ortu untuk memeriksakan diri

¨       Mengkaji penannganan nyri dengan sakit gigi

S

 

 

O

 

 

A

P

An. D mengatkan sakit giginya, dan mengatakan sudah gosok gigi dan di beri obat belum di bawa ke pelayanan kesehatan

Terdapat koyo di pipinya, pipi bengkak, raut denngan wajah nyeri skala 3

Masalah belum teratasi

Lanjutkan Intervenis

Kamis

25 Mei 2006

¨       Penyuluhan tentang  karies gigi S

 

O

A
P

Ny. N mengatakan paham tentang karies gigi

Mengangguk

Masalah teratsi sebagian

Pertahankan

Jumat

26 Mei

2006

¨       Evaluasi S

 

 

 

O

A

P

Ny. N mengatakan akan merawat naknya dan akan membawanya kle pelayanan kesehatan nanti jika naknya sakit kembali

Tersenyum

Masalah teratasi

Pertahankan

Resiko ketidakseimbangan pertumbuhan berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Jumat, 11 Mei 2006 w  Kunjungan pertama dan perkenalan

w  pengkajian

S

 

O

 

A

P

Ny. N mengtakan senang sekali kami datang.

Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Penerimaan yang baik.

Masalah belum ditemukan

Lakukan pencarian

Senin 14 Mei 2006 ¨       Pengkajian tahap kedua

¨       Menayakan menu keluarga khusunya untuk anak-anak

¨       Menganjurkan untuk menganti menu makanan dan mempercantik makanan

¨       Berdiskusi bersama mengenai menu makanan dan jadwal pemberian makan

S

 

 

 

O

A
P

Ny. N mengatakan akan membuat jadwal makan untuk nak-anaknya naumn semua tergantung cengan ekonomi

Membuat daftar menu

Masalah teratasi

pertahankan

Rabu

24 Mei 2006

¨       Penyuluhan tentang gizi seimbang dan juga mengenai tumbuh kembangan balita umur 3-4 tahun S

 

 

 

O

 

A

P

Ny. T mengatakan anaknya memang mem[unyai gizi kurang dan tumbuh kembang yang sedikit terlambat

Mnganguguk

 

Masalah teratsi

Petahankan

Kamis

25 Mei 2006

¨       Mengukur BB, TB,LK,LD S

O

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A

P

Berapa Mbak?

An/ D

TB                    : 88 cm

BB                    : 12 Kg

LLA  : 14 cm

LK                    : 47 cm

LD                    : 47 cm

 

An. R

 

  • o BB 10kg
  • o LLA 13 cm
  • o LK 46 cm
  • o LD 46 cm
  • o Berada pad BGM di KMS

Masalah teratsi

Beri penyuluhan gisi dan terapi bermain

Sabtu

!0 Juni

2006

¨       Evaluasi   Keluarga Tn S mengalami musibah gempa, rumahnya rubuh sehingga evaluasi tidak dapat di lakukan secara optimal. Anak Tn. S yaitu An. D mengalami penambahan berat padan 1 kg sehingga menjadi 1 kg  sedangkan anR  mengalami penambahan 2 kg. walaupun dalam nilai baku Who mereka masih mengalami status gizi kurang naumn setidakanya mereka mengalami penambahan berat badan. Ini juga di pengaruhi oleh keluarga dimana pemberian asupan makanan.
Manajemen terapeutik keluarga tidak efektif behubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Jumat, 11 Mei 2006 w  Kunjungan pertama dan perkenalan

w  pengkajian

S

 

O

 

A

P

Ny. N mengtakan senang sekali kami ating.

Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Penerimaan yang baik.

Masalah belum ditemukan

Lakukan pencarian

Senin 14 Mei 2006 ¨       Mengkaji umur dan pemberian ASI S

 

 

 

 

 

O

A
P

Ny. N mengatakan bahwa A. R masih menyusu dan belum di sapih

Ny. N masih merasa iba kalua menyapihnya sekarang dengan kondisi anak tidak sehat

An. R menyusu

Masalah belum teratsi

Beri penyuluhan menganai ASI

Selasa 15 Mei 2006 ¨       Penyuluhan mengarnai ASI S

 

 

 

 

O

A
P

Ny. N mengatakan bahwa di atahu namun melum mampu untuk mengambil keputuasan, namun akan berusah untuk mengambil keputusan itu.

Menganguk

Masalah teratasi sebagian

Pertahankan dan beri dukungan

Kamis

25 Mei 2006

¨       Evaluasi   Anak masih mengenen (menyusu)). Ibu belum mampu untuk mengambil keputusan. Ibu akan menyapihnya apabila nak sudah benar-benar sehat.
Ketidakefektifan penatalaksanaan terapeutik keluarga berhubungan dengan Ketidakmampuan mengenal masalah, ketidakmampuan mengambil keputusan, ketidakmampuan menggunkan fasilitas kesehatan
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Jumat, 11 Mei 2006 w  Kunjungan pertama dan perkenalan

w  pengkajian

S

 

O

 

A

P

Ny. N mengtakan senang sekali kami ating.

Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Penerimaan yang baik.

Masalah belum ditemukan

Lakukan pencarian

Senin 14 Mei 2006 ¨    Mengkaji imunisasi anak

¨    Menganjurkan untuk menjaga dengan makan bergizi dan juga di jagakesehatannya

S

 

 

 

 

 

 

 

 

O

A
P

Ny. N mengatakan dulu tidak mengimunisasi An. R Karen repot sehabis pindahan dannjuga karena jauh dari fasilitas kesehatan.

Ny N sudah berusaha untuk mengimunisasi dengan usia anak 3 tahuan naum yang ada di bisan swasta.

Raut penyesalan

Masalah teratasi sebagian

Penyuluhan imunisasi

26 Mei 2006 ¨    Penyuluhan imunisasi S

 

 

 

O

A
P

Ny. N mengatakan paham akan imuniasi namun hanya karena kerepotan dan jaunya fasilitas kesetahn yang menjadi kendala

Menggangguk, memperhatikan.

Masalah teratsi

Perthanakan, beri dukungan

10 Juni 2006 ¨    Evaluasi   Keluarga tn. S akan menjaga kesehatan An. R dan mencaru perilaku sehat untuk anaknya meski dengan tidak imunisasi mereka akanan menjaga buah hati mereka dengan baik

 

AKHIR KISAH ONEPIECE

akhir kisah dari manga One Piece

Posted: 4th July 2010 by puspita tri wulandari in One Piece
Tags: manga, onepiece

0

ini dapat dari situs nya eichiro oda langsung !

pada akhirnya kelompok topi jerami akan memiliki 10 kru..
menurut saya hancock akan bergabung dengan mereka..dan kru satunya lagi mungkin akan ditemukan di sebuah tempat di “Dunia Baru”….
seluruh sichibukai akan dikalahkan oleh kelompok Topi Jerami dan kelompok Shanks…
sedangkan World Govt akan dkalahkan kelompok Whitebeard dan kelompok bajak laut 11 Supernovas atas dendam mereka ( Whitebeard tidak terima Ace hampir mati, sedangkan 11 supernovas membalas dendam akan kekalahan mereka saaat melawan kizaru)

Kemudian akan terkuak rahasia besar dunia 400 tahun yang lalu karena Robin berhasil membaca ponelglyph dan akan diketahui bahwa dulu ada sebuah kerajaan besar yang menguasai dunia dan kerajaan itu adalah kerajaan yang dimaksud oleh profesor dari OHARA… ternayata kerajaan itu dulunya dikuasai oleh para penyandang nama ‘D’…dan entah karena sebuah sebab, suatu kelompok yang menamakan diri World Govt ( Gorosei terlibat langsung, karena umur Gorosei yang awet muda, maka bisa hidup sampai sekarang ) berhasil mengkudeta kerajaan ‘D’ tersebut…

Dan diketahui dari silsilah keluarga kerajaan, Monkey D Dragon adalah keturunan terakhir… itulah sebabnya Dragon memimpin sebuah revolusioner untuk mengambil alih dunia yang sebenarnya adalah milik kerajaan leluhurnya…

maka Robin menyimpulkan bahwa LUFFY dan ACElah putra mahkota kerajaan ‘D’ tersebut, karena ia adalah anak dragon…
pada akhirnya di pulau RAFTEL terkuak rahasia bahwa pulau itu adalah pusat kerajaan ‘D’… Gold D roger, yang juga salah satu keturunan kerajaan D sengaja menyimpan one piece di tanah leluhurnya, karena ia yakin bahwa salah satu dari penyandang nama D yang akan mendapatkan ONEPIECE..
sebuah harta yang tidak hnya berisi kekayaan, tetapai juga kemasyhuran, dan peniggalan kerajaaan ‘D’
Luffy akan menang dalam pertempuran terakhir melawan Shanks di pulau Raftel… dan diakhiri dengan tumbangnya World GOvt dan berakhirnya era bajak laut!!!!

materi referensi:
fakta bahwa kelompok Topi Jerami akan memiliki 10 kru dan pertarungan terakhir Luffy vs Shanks saya dapat dari situs resmi Eicihro Oda. Oda membocorkan hasil akhir cerita one piece..

Jadi sekarang, Shichibukai hanya tinggal 1 orang yaitu Marshall D. Teach. Shicibukai yang lain :
– Boa Hancock di cabut jabatannya karena dia mengikuti luffy dan menghianati pemerintah
– Mihawk sudah di kalahkan Zoro waktu perang besar World Govt. vs Bajak Laut Shirohige, Shanks dan Mugiwara
– Jimbee sudah di kalah kan Luffy di Impel Down
– Gecko Moria sudah benar – benar di kalahkan salah seorang dari Bajak laut Shirohige
– Barthollomew Kuma dan pasifista-nya sudah di kalahkan Shanks dan kru-nya dalam perang besar
– Doflamingo dikalahkan Luffy dalam perang besar tersebut.

Tokoh penting lain yang telah kalah :
– Salah seorang dari Gorosei
– Admiral Kizaru

Akhirnya peperangan besar tersebut di menangkan oleh Shirohige, Mugiwara dan Bajak laut Shanks. Di saat World Govt. ( pemerintah ) sedang kacau, Teach menghianati pemerintah dengan menghancurkan markas besar angkatan laut dan menghasut admiral Akainu untuk ikut dengan kelompoknya. Mereka ( Teach dan Akainu ) bekerja sama melawan Admiral tinggi Sengoku dan admiral Aokiji. Sayang sekali Sengoku dikalah kan mereka berdua dan Aokiji bisa melarikan diri. Teach memfitnah Mugiwara yang telah menghancurkan markas Angkatan Laut padahal sekarang Luffy sedang berhadapan dengan bajak laut Kaidou.
Karena pemerintah marah, target mereka adalah Mugiwara. Nah, di saat Pemerintah menyerang Mugiwara, Aokiji pun menolong mereka. Akhirnya semua Gorosei bisa di kalahkan Mugiwara dan Aokiji. Aokiji bilang : ” keadaan dunia ini sudah kacau, harus ada seseorang yang merebut One Piece agar dunia ini damai “. Akhirnya, Aokiji ikut dalam kelompok Mugiwara untuk melawan Teach.
-cerita panjang di pulau raftel : Mugiwara Kaizoku vs Teach Kaizoku “-

akhir cerita, luffy bisa mengalahkan Teach dan mendapatkan One Piece.

Di dalam One Piece berisi banyak sekali harta dan sepucuk surat yang berisi :

” Aku sudah tahu kau yang akan mendapatkannya, Luffy. Segera akhiri masa bajak laut yang penuh dengan pertumpahan darah ini!

Sebarkan semua kedamaian di dunia ! ”

Gold Dream Roger

Sekarang semua anggota lengkap mugiwara :
Luffy, Zoro, Nami, Ussop, Sanji, Chopper, Robin, Franky, Brook, Hancock, Rayliegh & Aokiji !

Yang apsti tujuan dan impian para crew Strawhat Pirate bakal terwujud..
> Monkey D. Luffy menjadi Raja Bajak Laut.. (Munkin akan mengalahkan Shichibukai, Petinggi Marine, World.Gov dan Yonko.)
> Roronoa Zorro menjadi pendekar pedang terhebat (Mengalahkan Mihawk)
> Nami akan menggambar seluruh peta dunia…
> Usopp menjadi pahlawan pemberani di seluruh lautan dan menuju pulau pahlawan Erbaf..
> Sanji menemukan lautan All Blue (dan lautan setelah Raftel adalah lautan yang selama ini di impikan Sanji : All Blue.)
> Nico Robin akan menemukan sejarah 100 tahun yang hilang..
> Chopper menjadi Dokter hebat yang akan dapat menyembuhkan seluruh penyakit..
> Franky menjadi tukang kayu hebat dan membuat kapal yang hebat dan dapat mengarungi semua lautan Grand Line (Thousand Sunny)
> Brook akan menepati janjiny untuk bertemu dgn Laboon

 

SISTEM PAKAR

A. Pendahuluan

Ketika hendak membuat suatu keputusan yang komplek atau memecahkan masalah, seringkali kita meminta nasehat atau berkonsultasi dengan seorang pakar atau ahli. Seorang pakar adalah seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman spesifik dalam suatu bidang; misalnya pakar komputer, pakar uji tak merusak, pakar politik dan lain-lain. Semakin tidak terstruktur situasinya, semakin mengkhusus (dan mahal) konsultasi yang dibutuhkan.

 

Sistem Pakar (Expert System) adalah usaha untuk menirukan seorang pakar. Biasanya Sistem Pakar berupa perangkat lunak pengambil keputusan yang mampu mencapai tingkat performa yang sebanding seorang pakar dalam bidang problem yang khusus dan sempit. Ide dasarnya adalah: kepakaran ditransfer dari seorang pakar (atau sumber kepakaran yang lain) ke komputer, pengetahuan yang ada disimpan dalam komputer, dan pengguna dapat berkonsultasi pada komputer itu untuk suatu nasehat, lalu komputer dapat mengambil inferensi (menyimpulkan, mendeduksi, dll.) seperti layaknya seorang pakar, kemudian menjelaskannya ke pengguna tersebut, bila perlu dengan alasan-alasannya. Sistem Pakar malahan terkadang lebih baik unjuk kerjanya daripada seorang pakar manusia!

 

Kepakaran (expertise) adalah pengetahuan yang ekstensif (meluas) dan spesifik yang diperoleh melalui rangkaian pelatihan, membaca, dan pengalaman. Pengetahuan membuat pakar dapat mengambil keputusan secara lebih baik dan lebih cepat daripada non-pakar dalam memecahkan problem yang kompleks. Kepakaran mempunyai sifat berjenjang, pakar top memiliki pengetahuan lebih banyak daripada pakar yunior.

Tujuan Sistem Pakar adalah untuk mentransfer kepakaran dari seorang pakar ke komputer, kemudian ke orang lain (yang bukan pakar). Proses ini tercakup dalam rekayasa pengetahuan (knowledge engineering) yang akan dibahas kemudian.

B. Manfaat dan Keterbatasan Sistem Pakar

1. Manfaat Sistem Pakar

Mengapa Sistem Pakar menjadi sangat populer? Hal ini disebabkan oleh sangat banyaknya kemampuan dan manfaat yang diberikan oleh Sistem Pakar, di antaranya:

 

Diktat Mata Kuliah Kecerdasan Buatan Ir. Balza Achmad, M.Sc.E. 8

a. Meningkatkan output dan produktivitas, karena Sistem Pakar dapat bekerja lebih cepat dari manusia.

b. Meningkatkan kualitas, dengan memberi nasehat yang konsisten dan mengurangi kesalahan.

c. Mampu menangkap kepakaran yang sangat terbatas.

d. Dapat beroperasi di lingkungan yang berbahaya.

e. Memudahkan akses ke pengetahuan.

f. Handal. Sistem Pakar tidak pernah menjadi bosan dan kelelahan atau sakit. Sistem Pakar juga secara konsisten melihat semua detil dan tidak akan melewatkan informasi yang relevan dan solusi yang potensial.

g. Meningkatkan kapabilitas sistem terkomputerisasi yang lain. Integrasi Sistem Pakar dengan sistem komputer lain membuat lebih efektif, dan mencakup lebih banyak aplikasi .

h. Mampu bekerja dengan informasi yang tidak lengkap atau tidak pasti. Berbeda dengan sistem komputer konvensional, Sistem Pakar dapat bekerja dengan inofrmasi yang tidak lengkap. Pengguna dapat merespon dengan: “tidak tahu” atau “tidak yakin” pada satu atau lebih pertanyaan selama konsultasi, dan Sistem Pakar tetap akan memberikan jawabannya.

i. Mampu menyediakan pelatihan. Pengguna pemula yang bekerja dengan Sistem Pakar akan menjadi lebih berpengalaman. Fasilitas penjelas dapat berfungsi sebagai guru.

j. Meningkatkan kemampuan problem solving, karena mengambil sumber pengetahuan dari banyak pakar.

k. Meniadakan kebutuhan perangkat yang mahal.

l. Fleksibel.

 

2. Keterbatasan Sistem Pakar

Metodologi Sistem Pakar yang ada tidak selalu mudah, sederhana dan efektif. Berikut adalah keterbatasan yang menghambat perkembangan Sistem Pakar:

a. Pengetahuan yang hendak diambil tidak selalu tersedia.

b. Kepakaran sangat sulit diekstrak dari manusia.

c. Pendekatan oleh setiap pakar untuk suatu situasi atau problem bisa berbeda-beda, meskipun sama-sama benar.

d. Adalah sangat sulit bagi seorang pakar untuk mengabstraksi atau menjelaskan langkah mereka dalam menangani masalah

e. Pengguna Sistem Pakar mempunyai batas kognitif alami, sehingga mungkin tidak bisa memanfaatkan sistem secara maksimal.

f. Sistem Pakar bekerja baik untuk suatu bidang yang sempit.

g. Banyak pakar yang tidak mempunyai jalan untuk mencek apakah kesimpulan mereka benar dan masuk akal.

h. Istilah dan jargon yang dipakai oleh pakar dalam mengekspresikan fakta seringkali terbatas dan tidak mudah dimengerti oleh orang lain.

i. Pengembangan Sistem Pakar seringkali membutuhkan perekayasa pengetahuan (knowledge engineer) yang langka dan mahal.

j. Kurangnya rasa percaya pengguna menghalangi pemakaian Sistem Pakar.

k. Transfer pengetahuan dapat bersifat subyektif dan bias.

C. Komponen Sistem Pakar

Secara umum, Sistem Pakar biasanya terdiri atas beberapa komponen yang masing-masing berhubungan seperti terlihat pada Gambar II-1.

Basis Pengetahuan, berisi pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami, memformulasi, dan memecahkan masalah. Basis pengetahuan tersusun atas 2 elemen dasar:

1. Fakta, misalnya: situasi, kondisi, dan kenyataan dari permasalahan yang ada, serta teori dalam bidang itu

2. Aturan, yang mengarahkan penggunaan pengetahuan untuk memecahkan masalah yang spesifik dalam bidang yang khusus

Mesin Inferensi (Inference Engine), merupakan otak dari Sistem Pakar. Juga dikenal sebagai penerjemah aturan (rule interpreter). Komponen ini berupa program komputer yang menyediakan suatu metodologi untuk memikirkan (reasoning) dan memformulasi kesimpulan. Kerja mesin inferensi meliputi:

1. Menentukan aturan mana akan dipakai

2. Menyajikan pertanyaan kepada pemakai, ketika diperlukan.

3. Menambahkan jawaban ke dalam memori Sistem Pakar.

4. Menyimpulkan fakta baru dari sebuah aturan

5. Menambahkan fakta tadi ke dalam memori.

 

 

 

Gambar II-1. Struktur skematis sebuah Sistem Pakar

Papan Tulis (Blackboard/Workplace), adalah memori/lokasi untuk bekerja dan menyimpan hasil sementara. Biasanya berupa sebuah basis data.

Antarmuka Pemakai (User Interface). Sistem Pakar mengatur komunikasi antara pengguna dan komputer. Komunikasi ini paling baik berupa bahasa alami, biasanya disajikan dalam bentuk tanya-jawab dan kadang ditampilkan dalam bentuk gambar/grafik. Antarmuka yang lebih canggih dilengkapi dengan percakapan (voice communication).

Subsistem Penjelasan (Explanation Facility). Kemampuan untuk menjejak (tracing) bagaimana suatu kesimpulan dapat diambil merupakan hal yang sangat penting untuk transfer pengetahuan dan pemecahan masalah. Komponen subsistem penjelasan harus dapat menyediakannya yang secara interaktif menjawab pertanyaan pengguna, misalnya:

1. “Mengapa pertanyaan tersebut anda tanyakan?”

2. “Seberapa yakin kesimpulan tersebut diambil?”

3. “Mengapa alternatif tersebut ditolak?”

4. “Apa yang akan dilakukan untuk mengambil suatu kesimpulan?”

5. “Fakta apalagi yang diperlukan untuk mengambil kesimpulan akhir?”

Sistem Penghalusan Pengetahuan (Knowledge Refining System). Seorang pakar mempunyai sistem penghalusan pengetahuan, artinya, mereka bisa menganalisa sendiri performa mereka, belajar dari pengalaman, serta meningkatkan pengetahuannya untuk konsultasi berikutnya. Pada Sistem Pakar, swa-evaluasi ini penting sehingga dapat menganalisa alasan keberhasilan atau kegagalan pengambilan kesimpulan, serta memperbaiki basis pengetahuannya.

D. Pembangunan Sebuah Sistem Pakar

Mengembangkan Sistem Pakar dapat dilakukan dengan 2 cara:

1. Membangun sendiri semua komponen di atas, atau

2. Memakai semua komponen yang sudah ada kecuali isi basis pengetahuan.

Yang kedua disebut sebagai membangun Sistem Pakar dengan shell, yakni semua komponen Sistem Pakar, kecuali basis pengetahuan, bersifat generik; sehingga dapat dipakai untuk bidang yang berlainan. Membangun Sistem Pakar dengan shell dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih sedikit keterampilan memprogram, namun berkurang fleksibilitasnya karena harus mengikuti kemampuan dari shell tersebut. Salah satu shell Sistem Pakar yang populer dipakai adalah CLIPS (C Language Integrated Production System) yang dapat didownload dari internet.

1. Pemilihan Masalah

Pembuatan Sistem Pakar membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Untuk menghindari kegagalan yang memalukan dan kerugian yang besar, maka dibuat beberapa pedoman untuk menentukan apakah Sistem Pakar cocok untuk memecahkan suatu problem:

a. Biaya yang diperlukan untuk pembangunan Sistem Pakar ditentukan oleh kebutuhan untuk memperoleh solusi. Sehingga harus ada perhitungan yang realistis untuk cost and benefit.

b. Pakar manusia tidak mudah ditemui untuk semua situasi di mana dia dibutuhkan. Jika pakar pengetahuan tersebut terdapat di mana saja dan kapan saja, maka pembangunan Sistem Pakar menjadi kurang berharga.

c. Problem yang ada dapat diselesaikan dengan teknik penalaran simbolik, dan tidak membutuhkan kemampuan fisik.

d. Problem tersebut harus terstruktur dengan baik dan tidak membutuhkan terlalu banyak pengetahuan awam (common sense), yang terkenal sulit untuk diakuisisi dan dideskripsikan, dan lebih banyak berhubungan dengan bidang yang teknis.

e. Problem tersebut tidak mudah diselesaikan dengan metode komputasi yang lebih tradisionil. Jika ada penyelesaian algoritmis yang bagus untuk problem tersebut, maka kita tidak perlu memakai Sistem Pakar.

 

f. Ada pakar yang mampu memberikan penjelasan tentang kepakarannya serta mau bekerjasama. Adalah sangat penting bahwa pakar yang dihubungi benar-benar mempunyai kemauan kuat untuk ikut berpartisipasi serta tidak merasa pekerjaannya akan menjadi terancam.

g. Problem tersebut mempunyai sekup yang tepat. Biasanya merupakan problem yang membutuhkan kepakaran yang sangat khusus namun hanya membutuhkan seorang pakar untuk dapat menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat (misalnya paling lama 1 jam).

2. Rekayasa Pengetahuan (Knowledge Engineering)

Proses dalam rekayasa pengetahuan meliputi (Gambar II-2):

a. Akuisisi pengetahuan, yaitu bagaimana memperoleh pengetahuan dari pakar atau sumber lain (sumber terdokumentasi, buku, sensor, file komputer, dll.).

b. Validasi pengetahuan, untuk menjaga kualitasnya misalnya dengan uji kasus.

c. Representasi pengetahuan, yaitu bagaimana mengorganisasi pengetahuan yang diperoleh, mengkodekan dan menyimpannya dalam suatu basis pengetahuan.

d. Penyimpulan pengetahuan, menggunakan mesin inferensi yang mengakses basis pengetahuan dan kemudian melakukan penyimpulan.

e. Transfer pengetahuan (penjelasan). Hasil inferensi berupa nasehat, rekomendasi, atau jawaban, kemudian dijelaskan ke pengguna oleh subsistem penjelas.

 

Gambar II-2. Proses dalam rekayasa pengetahuan

 

3. Partisipan Dalam Proses Pengembangan

Pakar, yaitu seseorang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman, dan metode khusus, serta mampu menerapkannya untuk memecahkan masalah atau memberi nasehat. Pakar menyediakan pengetahuan tentang bagaimana nantinya Sistem Pakar bekerja.

Perekayasa pengetahuan (knowledge engineer), yang membantu pakar untuk menyusun area permasalahan dengan menerjemahkan dan mengintegrasikan jawaban pakar terhadap pertanyaan-pertanyaan dari klien, menarik analogi, serta memberikan contoh-contoh yang berlawanan, kemudian menyusun basis pengetahuan.

Pengguna, yang mungkin meliputi: seorang klien non-pakar yang sedang membutuhkan nasehat (Sistem Pakar sebagai konsultan atau advisor), seorang siswa yang sedang belajar (Sistem Pakar sebagai instruktur), seorang pembuat Sistem Pakar yang hendak meningkatkan basis pengetahuan (Sistem Pakar sebagai partner), seorang pakar (Sistem Pakar sebagai kolega atau asisten, yang dapat memberikan opini kedua).

Partisipan lain, dapat meliputi: pembangun sistem (system builder), tool builder, staf administrasi dsb.

 

4. Akuisisi Pengetahuan

Dalam proses akuisisi pengetahuan, seorang perekayasa pengetahuan menjembatani antara pakar dengan basis pengetahuan. Perekayasa pengetahuan mendapatkan pengetahuan dari pakar, mengolahnya bersama pakar tersebut, dan menaruhnya dalam basis pengetahuan, dengan format tertentu. Pengambilan pengetahuan dari pakar dapat dilakukan secara (Gambar II-3):

Manual, di mana perekayasa pengetahuan mendapatkan pengetahuan dari pakar (melalui wawancara) dan/atau sumber lain, kemudian mengkodekannya dalam basis pengetahuan. Proses ini biasanya berlangsung lambat, mahal, serta kadangkala tidak akurat.

Semi-otomatik, di mana terdapat peran komputer untuk: (1) mendukung pakar dengan mengijinkannya membangun basis pengetahuan tanpa (atau dengan sedikit) bantuan dari perekayasa pengetahuan, atau (2) membantu perekayasa pengetahuan sehingga kerjanya menjadi lebih efisien dan efektif.

Otomatik, di mana peran pakar, perekayasa pengetahuan, dan pembangun basis pengetahuan (system builder) digabung. Misalnya dapat dilakukan oleh seorang system analyst seperti pada metode induksi.

 

 

Gambar II-3. Metode akuisisi pengetahuan (a) manual (b) akuisisi terkendali-pakar (c) induksi

E. Representasi Pengetahuan

Setelah pengetahuan berhasil diakuisisi, mereka harus diorganisasi dan diatur dalam suatu konfigurasi dengan suatu format/representasi tertentu. Metode representasi pengetahuan yang populer adalah aturan produk dan bingkai.

1. Aturan Produk (Production Rules)

Di sini pengetahuan disajikan dalam aturan-aturan yang berbentuk pasangan keadaan-aksi (condition-action): “JIKA keadaan terpenuhi atau terjadi MAKA suatu aksi akan terjadi”. Sistem Pakar yang basis pengetahuannya melulu disajikan dalam bentuk aturan produk disebut sistem berbasis-aturan (rule-based system). Kondisi dapat terdiri atas banyak bagian, demikian pula dengan aksi. Urutan keduanya juga dapat dipertukarkan letaknya. Contohnya:

  1. JIKA suhu berada di bawah 20ºC MAKA udara terasa dingin.
  2. Udara terasa dingin JIKA suhu berada di bawah 20ºC.
  3. JIKA suhu berada di bawah 20ºC ATAU suhu berada di antara 20-25ºC DAN angin bertiup cukup kencang MAKA udara terasa dingin.
  4. Contoh dari MYCIN, Sistem Pakar untuk mendiagnosis dan merekomendasikan perlakuan yang tepat untuk infeksi darah tertentu:

 

 

IF the infection is pimary-bacteremia

AND the site of the culture is one of the sterile sites

AND the suspected portal of entry is the gastrointestinal tract

THEN there is suggestive evidence (0.7) that infection is bacteroid.

2. Bingkai (frame)

Bingkai adalah struktur data yang mengandung semua informasi/pengetahuan yang relevan dari suatu obyek. Pengetahuan ini diorganisasi dalam struktur hirarkis khusus yang memungkinkan pemrosesan pengetahuan. Bingkai merupakan aplikasi dari pemrograman berorientasi obyek dalam AI dan Sistem Pakar. Pengetahuan dalam bingkai dibagi-bagi ke dalam slot atau atribut yang dapat mendeskripsikan pengetahuan secara deklaratif ataupun prosedural. Contoh frame untuk menggambarkan sebuah mobil diberikan dalam Gambar II-4 berikut ini.

 

Gambar II-4. Bingkai pengetahuan untuk sebuah mobil

F. Bagaimana Sistem Pakar Melakukan Inferensi?

1. Sistem Perantaian Maju (Forward Chaining Systems)

Pada sistem perantaian maju, fakta-fakta dalam dalam sistem disimpan dalam memori kerja dan secara kontinyu diperbarui. Aturan dalam sistem merepresentasikan aksi-aksi yang harus diambil apabila terdapat suatu kondisi khusus pada item-item dalam memori kerja, sering disebut aturan kondisi-aksi. Kondisi biasanya berupa pola yang cocok dengan item yang ada di dalam memori kerja, sementara aksi biasanya berupa penambahan atau penghapusan item dalam memori kerja.

Aktivitas sistem dilakukan berdasarkan siklus mengenal-beraksi (recognise-act). Mula-mula, sistem mencari semua aturan yang kondisinya terdapat di memori kerja, kemudian memilih salah satunya dan menjalankan aksi yang bersesuaian dengan aturan tersebut. Pemilihan aturan yang akan dijalankan (fire) berdasarkan strategi tetap yang disebut strategi penyelesain konflik. Aksi tersebut menghasilkan memori kerja baru, dan siklus diulangi lagi sampai tidak ada aturan yang dapat dipicu (fire), atau goal (tujuan) yang dikehendaki sudah terpenuhi.

Sebagai contoh, lihat pada sekumpulan aturan sederhana berikut (Di sini kita memakai kata yang diawali huruf kapital untuk menyatakan suatu variabel. Pada sistem lain, mungkin dipakai cara lain, misalnya menggunakan awalan ? atau ^):

 

  1. JIKA (mengajar X) DAN (mengoreksi_tugas X) MAKA TAMBAH (terlalu_banyak_bekerja X)
  2. JIKA (bulan maret) MAKA TAMBAH (mengajar balza)
  3. JIKA (bulan maret) MAKA TAMBAH (mengoreksi_tugas balza)
  4. JIKA (terlalu_banyak_bekerja X) ATAU (kurang_tidur X) MAKA TAMBAH (mood_kurang_baik X)
  5. JIKA (mood_kurang_baik X) MAKA HAPUS (bahagia X)
  6. JIKA (mengajar X) MAKA HAPUS (meneliti X)

Kita asumsikan, pada awalnya kita mempunyai memori kerja yang berisi fakta berikut:

(bulan maret)

(bahagia balza)

(meneliti balza)

Sistem Pakar mula-mula akan memeriksa semua aturan yang ada untuk mengenali aturan manakah yang dapat memicu aksi, dalam hal ini aturan 2 dan 3. Sistem kemudian memilih

 

salah satu di antara kedua aturan tersebut dengan strategi penyelesaian konflik. Katakanlah aturan 2 yang terpilih, maka fakta (mengajar balza) akan ditambahkan ke dalam memori kerja. Keadaan memori kerja sekarang menjadi:

(mengajar balza)

(bulan maret)

(bahagia balza)

(meneliti balza)

Sekarang siklus dimulai lagi, dan kali ini aturan 3 dan 6 yang kondisinya terpenuhi. Katakanlah aturan 3 yang terpilih dan terpicu, maka fakta (mengoreksi_tugas balza) akan ditambahkan ke dalam memori kerja. Lantas pada siklus ketiga, aturan 1 terpicu, sehingga variabel X akan berisi (bound to) balza, dan fakta (terlalu_banyak_bekerja balza) ditambahkan, sehingga isi memori kerja menjadi:

 

 

 

 

(terlalu_banyak_bekerja balza)

(mengoreksi_tugas balza)

(mengajar balza)

(bulan maret)

(bahagia balza)

(meneliti balza)

Aturan 4 dan 6 dapat diterapkan. Misalkan aturan 4 yang terpicu, sehingga fakta (mood_kurang_baik balza) ditambahkan. Pada siklus berikutnya, aturan 5 terpilih dan dipicu, sehingga fakta (bahagia balza) dihapus dari memori kerja. Kemudian aturan 6 akan terpicu dan fakta (meneliti balza) dihapus pula dari memori kerja menjadi:

(mood_kurang_baik balza)

(terlalu_banyak_bekerja balza)

(mengoreksi_tugas balza)

(mengajar balza)

(bulan maret)

Urutan aturan yang dipicu bisa jadi sangat vital, terutama di mana aturan-aturan yang ada dapat mengakibatkan terhapusnya item dari memori kerja. Tinjau kasus berikut: andaikan terdapat tambahan aturan pada kumpulan aturan di atas, yaitu:

7. JIKA (bahagia X) MAKA TAMBAH (memberi_nilai_bagus X)

Jika aturan 7 ini terpicu sebelum (bahagia balza) dihapus dari memori, maka Sistem Pakar akan berkesimpulan bahwa saya akan memberi nilai bagus. Namun jika aturan 5 terpicu dahulu, maka aturan 7 tidak akan dijalankan (artinya saya tidak akan memberi nilai bagus).

2. Strategi penyelesaian konflik (conflict resolution strategy)

Strategi penyelesaian konflik dilakukan untuk memilih aturan yang akan diterapkan apabila terdapat lebih dari 1 aturan yang cocok dengan fakta yang terdapat dalam memori kerja. Di antaranya adalah:

  1. No duplication. Jangan memicu sebuah aturan dua kali menggunakan fakta/data yang sama, agar tidak ada fakta yang ditambahkan ke memori kerja lebih dari sekali.
  2. Recency. Pilih aturan yang menggunakan fakta yang paling baru dalam memori kerja. Hal ini akan membuat sistem dapat melakukan penalaran dengan mengikuti rantai tunggal ketimbang selalu menarik kesimpulan baru menggunakan fakta lama.
  3. Specificity. Picu aturan dengan fakta prakondisi yang lebih spesifik (khusus) sebelum aturan yang mengunakan prakondisi lebih umum. Contohnya: jika kita mempunyai aturan “JIKA (burung X) MAKA TAMBAH (dapat_terbang X)” dan “JIKA (burung X) DAN (pinguin X) MAKA TAMBAH (dapat_berenang X)” serta fakta bahwa tweety adalah seekor pinguin, maka lebih baik memicu aturan kedua dan menarik kesimpulan bahwa tweety dapat berenang.
  4. Operation priority. Pilih aturan dengan prioritas yang lebih tinggi. Misalnya ada fakta (bertemu kambing), (ternak kambing), (bertemu macan), dan (binatang_buas macan), serta dua aturan: “JIKA (bertemu X) DAN (ternak X) MAKA TAMBAH (memberi_makan X)” dan “JIKA (bertemu X) DAN (binatang_buas X) MAKA TAMBAH (melarikan_diri)”, maka kita akan memilih aturan kedua karena lebih tinggi prioritasnya.

3. Sistem Perantaian Balik (Backward Chaining Systems)

Sejauh ini kita telah melihat bagaimana sistem berbasis aturan dapat digunakan untuk menarik kesimpulan baru dari data yang ada, menambah kesimpulan ini ke dalam memori kerja. Pendekatan ini berguna ketika kita mengetahui semua fakta awalnya, namun tidak dapat menebak konklusi apa yang bisa diambil. Jika kita tahu kesimpulan apa yang seharusnya, atau mempunyai beberapa hipotesis yang spesifik, maka perantaian maju di atas menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, jika kita ingin mengetahui apakah saya dalam keadaan mempunyai mood yang baik sekarang, kemungkinan kita akan berulangkali memicu aturan-aturan dan memperbarui memori kerja untuk mengambil kesimpulan apa yang terjadi pada bulan Maret, atau apa yang terjadi jika saya mengajar, yang sebenarnya perlu terlalu kita ambil pusing. Dalam hal ini yang diperlukan adalah bagaimana dapat menarik kesimpulan yang relevan dengan tujuan atau goal.

Hal ini dapat dikerjakan dengan perantaian balik dari pernyataan goal (atau hipotesis yang menarik bagi kita). Jika diberikan sebuah goal yang hendak dibuktikan, maka mula-mula sistem akan memeriksa apakah goal tersebut cocok dengan fakta-fakta awal yang dimiliki. Jika ya, maka goal terbukti atau terpenuhi. Jika tidak, maka sistem akan mencari aturan-aturan yang konklusinya (aksinya) cocok dengan goal. Salah satu aturan tersebut akan dipilih, dan sistem kemudian akan mencoba membuktikan fakta-fakta prakondisi aturan tersebut menggunakan prosedur yang sama, yaitu dengan menset prakondisi tersebut sebagai goal baru yang harus dibuktikan.

Perhatikan bahwa pada perantaian balik, sistem tidak perlu memperbarui memori kerja, namun perlu untuk mencatat goal-goal apa saja yang dibuktikan untuk membuktikan goal utama (hipotesis).

Secara prinsip, kita dapat menggunakan aturan-aturan yang sama untuk perantaian maju dan balik. Namun, dalam prakteknya, harus sedikit dimodifikasi. Pada perantaian balik, bagian MAKA dalam aturan biasanya tidak diekspresikan sebagai suatu aksi untuk dijalankan (misalnya TAMBAH atau HAPUS), tetapi suatu keadaan yang bernilai benar jika premisnya (bagian JIKA) bernilai benar. Jadi aturan-aturan di atas diubah menjadi:

  1. JIKA (mengajar X) DAN (mengoreksi_tugas X) MAKA (terlalu_banyak_bekerja X)
  2. JIKA (bulan maret) MAKA (mengajar balza)
  3. JIKA (bulan maret) MAKA (mengoreksi_tugas balza)
  4. JIKA (terlalu_banyak_bekerja X) ATAU (kurang_tidur X) MAKA (mood_kurang_baik X)
  5. JIKA (mood_kurang_baik X) MAKA TIDAK BENAR (bahagia X)

dengan fakta awal:

(bulan maret)

(meneliti balza)

Misalkan kita hendak membuktikan apakah mood sedang kurang baik. Mula-mula kita periksa apakah goal cocok dengan fakta awal. Ternyata tidak ada fakta awal yang menyatakan demikian, sehingga langkah kedua yaitu mencari aturan mana yang mempunyai konklusi (mood_kurang_baik balza). Dalam hal ini aturan yang cocok adalah aturan 4 dengan variabel X diisi dengan (bound to) balza. Dengan demikian kita harus membuktikan bahwa prakondisi aturan ini, (terlalu_banyak_bekerja balza) atau (kurang_tidur balza), salah satunya adalah benar (karena memakai ATAU). Lalu diperiksa aturan mana yang dapat membuktikan bahwa adalah (terlalu_banyak_bekerja balza) benar, ternyata aturan 1, sehingga prakondisinya, (mengajar X) dan (mengoreksi_tugas X), dua-duanya adalah benar (karena memakai DAN). Ternyata menurut aturan 2 dan 3, keduanya bernilai bernilai benar jika (bulan maret) adalah benar. Karena ini sesuai dengan fakta awal, maka keduanya bernilai benar. Karena semua goal sudah terpenuhi maka goal utama (hipotesis) bahwa mood saya sedang kurang baik adalah benar (terpenuhi).

Untuk mencatat goal-goal yang harus dipenuhi/dibuktikan, dapat digunakan stack (tumpukan). Setiap kali ada aturan yang konklusinya cocok dengan goal yang sedang dibuktikan, maka fakta-fakta prakondisi dari aturan tersebut ditaruh (push) ke dalam stack sebagai goal baru. Dan setiap kali goal pada tumpukan teratas terpenuhi atau dapat dibuktikan, maka goal tersebut diambil (pop) dari tumpukan. Demikian seterusnya sampai tidak ada goal lagi di dalam stack, atau dengan kata lain goal utama (yang terdapat pada tumpukan terbawah) sudah terpenuhi.

4. Pemilihan Sistem Inferensi

Secara umum kita dapat memakai panduan berikut untuk menentukan apakah kita hendak memilih perantaian maju atau balik untuk Sistem Pakar yang kita bangun. Panduan tersebut tercantum dalam Tabel II-1 berikut ini.

 

Tabel II-1. Panduan untuk memilih sistem inferensi

 

5. Ketidakpastian dalam Aturan

Sejauh ini kita menggunakan nilai kebenaran tegas dalam fakta dan aturan yang dipakai, misalnya: jika terlalu banyak bekerja maka pasti mood kurang baik. Pada kenyataanya, seringkali kita tidak bisa membuat aturan yang absolut untuk mengambil kesimpulan secara pasti, misalnya: jika terlalu banyak bekerja maka kemungkinan besar mood kurang baik. Untuk itu, seringkali aturan yang dipakai memiliki nilai kepastian (certainty value). Contohnya: jika terlalu banyak bekerja maka pasti mood kurang baik (kepastian 0,75).

G. Contoh Aplikasi Sistem Pakar

1. Aplikasi Sederhana: Sistem Pakar Bengkel Mobil

Ini adalah contoh Sistem Pakar sederhana, yang bertujuan untuk mencari apa yang salah sehingga mesin mobil pelanggan yang tidak mau hidup, dengan memberikan gejala-gejala yang teramati. Anggap Sistem Pakar kita memiliki aturan-aturan berikut:

  1. JIKA mesin_mendapatkan_bensin DAN starter_dapat_dihidupkan MAKA ada_masalah_dengan_pengapian
  2. JIKA TIDAK BENAR starter_dapat_dihidupkan DAN TIDAK BENAR lampu_menyala MAKA ada_masalah_dengan_aki
  3. JIKA TIDAK BENAR starter_dapat_dihidupkan DAN lampu_menyala MAKA ada_masalah_dengan_starter
  4. JIKA ada_bensin_dalam_tangki_bahan_bakar MAKA mesin_mendapatkan_bensin

Terdapat 3 masalah yang mungkin, yaitu: ada_masalah_dengan_pengapian, ada_masalah_dengan_aki dan ada_masalah_dengan_starter. Dengan sistem terarah-tujuan (goal-driven), kita hendak membuktikan keberadaan setiap masalah tadi.

Pertama, Sistem Pakar berusaha untuk membuktikan kebenaran ada_masalah_dengan_pengapian. Di sini, aturan 1 dapat digunakan, sehingga Sistem Pakar akan menset goal baru untuk membuktikan apakah mesin_mendapatkan_bensin serta starter_dapat_dihidupkan. Untuk membuktikannya, aturan 4 dapat digunakan, dengan goal baru untuk membuktikan mesin_mendapatkan_bensin. Karena tidak ada aturan lain yang dapat digunakan menyimpulkannya, sedangkan sistem belum memperoleh solusinya, maka Sistem Pakar kemudian bertanya kepada pelanggan: “Apakah ada bensin dalam tangki bahan bakar?”. Sekarang, katakanlah jawaban klien adalah “Ya”, jawaban ini kemudian dicatat, sehingga klien tidak akan ditanyai lagi dengan pertanyaan yang sama.

Nah, karena sistem sekarang sudah dapat membuktikan bahwa mesin mendapatkan bensin, maka sistem sekarang berusaha mengetahui apakah starter_dapat_dihidupkan. Karena sistem belum tahu mengenai hal ini, sementara tidak ada aturan lagi yang dapat menyimpulkannya, maka Sistem Pakar bertanya lagi ke klien: “Apakah starter dapat dihidupkan?”. Misalkan jawabannya adalah “Tidak”, maka tidak ada lagi aturan yang dapat membuktikan ada_masalah_dengan_pengapian, sehingga Sistem Pakar berkesimpulan bahwa hal ini bukanlah solusi dari problem yang ada, dan kemudian melihat hipotesis berikutnya: ada_masalah_dengan_aki. Sudah diketahui (dibuktikan) bahwa mesin tidak dapat distarter, sehingga yang harus dibuktikan adalah bahwa lampu tidak menyala. Sistem Pakar kemudian bertanya: “Apakah lampu menyala?”. Misalkan jawabannya adalah “Tidak”, maka sudah terbukti bahwa ada masalah dengan aki.

Sistem ini mungkin berhenti sampai di sini, tetapi biasanya ada kemungkinan terdapat lebih dari satu solusi (misalnya terdapat lebih dari satu kerusakan), atau ada kemungkinan terdapat solusi lain yng lebih tepat, sehingga biasanya semua hipotesis diperiksa kebenarannya. Sistem Pakar ini kemudian mencoba membuktikan bahwa ada_masalah_dengan_starter, namun dari fakta yang sudah diperoleh, yaitu lampu tidak menyala, maka pembuktiannya menjadi gagal. Dengan demikian solusi yang diberikan oleh Sistem Pakar adalah ada masalah dengan aki.

Secara lengkap, interaksi antara Sistem Pakar dengan klien mungkin seperti ini:

System Pakar: Apakah ada bensin dalam tangki bahan bakar?

Klien: Ya

System Pakar: Apakah starter dapat dihidupkan?

Klien: Tidak

System Pakar: Apakah lampu menyala?

Klien: Tidak

System Pakar: Saya berkesimpulan bahwa ada masalah dengan aki

Fasilitas Penjelasan

Kebanyakan Sistem Pakar mempunyai fasilitas penjelasan yang mengijinkan klien untuk bertanya mengapa dia diberi suatu pertanyaan atau bagaimana dapat mencapai suatu kesimpulan. Pertanyaan dari klien tersebut dijawab dengan mengacu pada goal, aturan yang dipakai, dan data-data yang ada. Contoh pemakaian fasilitas penjelas dalam Sistem Pakar di atas dapat dilihat pada percakapan berikut:

System Pakar: Apakah ada bensin dalam tangki bahan bakar?

Klien: Ya

System Pakar: Apakah starter dapat dihidupkan?

Klien: Tidak

System Pakar: Apakah lampu menyala?

Klien: Mengapa?

System Pakar: Saya mencoba membuktikan bahwa ada masalah dengan aki. Sudah ditunjukkan adalah tidak benar starter dapat dihidupkan. Sehingga jika tidak benar bahwa lampu menyala, maka ada masalah dengan aki. Apakah lampu menyala?

Klien: Tidak

System Pakar: Saya berkesimpulan bahwa ada masalah dengan aki

Klien: Bagaimana bisa?

System Pakar: Hal ini sesuai dengan aturan no 2: JIKA TIDAK BENAR starter_dapat_dihidupkan DAN TIDAK BENAR lampu_menyala MAKA ada_masalah_dengan_aki bahwa tidak benar starter_dapat_dihidupkan sudah dijawab, bahwa tidak benar lampu_menyala sudah dijawab, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada_masalah_dengan_aki.

 

Fasilitas penjelasan berhubungan dengan pencatatan aturan apa saja yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, dan menggunakan catatan tersebut untuk menyusun penjelasan. Pembangkitan penjelasan sederhana seperti contoh di atas bukanlah persoalan yang sulit, namun pemahaman klien terhadap penjelasan tersebut tidaklah sama, sehingga seringkali klien tetap tidak mengerti maksudnya. Hal ini karena biasanya penjelasan hanya meliputi pengetahuan yang dangkal atau hanya permukaan saja sebagaimana tercantum dalam autran yang dipunyai, bukannya pengetahuan yang mendalam yang mendasari aturan tersebut. Dalam contoh di atas, Sistem Pakar hanya mengatakan bahwa hal ini sesuai dengan aturan no 2, tetapi tidak menjelaskan secara lebih detil mengenai aturan 2 tersebut. Mungkin klien perlu diberi pengertian bahwa lampu dan starter dua-duanya menggunakan aki untuk menyalakannya. Hal penting lain adalah ketika klien gagal mengerti atau menerima penjelasan yang diberikan, biasanya Sistem Pakar tidak dapat memberi penjelasan dengan cara lain (tidak begitu halnya dengan seorang pakar yang mampu menggunakan kalimat yang lain untuk mencoba menjelaskannya).

2. Eliza

Eliza adalah salah satu Sistem Pakar yang paling awal dikembangkan. Ini adalah program komputer terapis yang dibuat oleh Joseph Weizenbaum di MIT. Pengguna berkomunikasi dengannya sebagaimana sedang berkonsultasi dengan seorang terapis. Berikut ini adalah contoh percakapan antara Eliza dengan seorang klien:

Eliza: Hello. I am ELIZA. How can I help you?

Klien: My name is Balza.

Eliza: I have told you before, I do not care about names.

Klien: I don’t have any money. That’s my problem.

Eliza: Why do you say your problem?

Klien: Because you asked me.

Eliza: Do any other reasons not come to mind?

Klien: No.

Eliza: You are being a bit negative.

Klien: Why?

Eliza: Please go on.

Klien: OK. I am bankrupt.

Eliza: How long have you been bankrupt?

Klien: A year.

Eliza: Please go on.

Klien: So, what should I do?

Eliza: Does that question interest you?

Klien: Yes, how can I make big money?

Eliza: You are sure?

Klien: Of course I’m sure.

3. Parry

Parry adalah Sistem Pakar yang juga paling awal dikembangkan di Stanford University oleh seorang psikiater, Kenneth Colby, yang mensimulasikan seorang paranoid. Berikut ini contoh respon Parry terhadap pertanyaan seorang psikiater yang menginterviunya.

Psikiater: Why are you in the hospital?

Parry: I shouldn’t be here.

Psikiater: Who brought you here?

Parry: The police.

Psikiater: What trouble did you have with the police?

Parry: Cops don’t do their job.

Psikiater: What do they do instead?

Parry: Cops arrest the wrong people.

Psikiater: They arrest the right ones sometimes

Parry: The law should get those Italian crooks.

Psikiater: Are you Italian?

Parry: My background is British but I was born in this country.

Psikiater: Do you know any Italian crooks?

Parry: I try to avoid the underworld.

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA Ny D DENGAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS

  1. I. PENGKAJIAN

Hari / Tanggal       : Kamis, 11 Mei  2006             Waktu                         : 10.00 WIB

Metode                  : Wawancara, Observasi, Pemeriksaaan Fisik

  1. A. Data Keluarga
    1. Identitas Keluarga
      1. Nama KK                    : Ny D
      2. Jenis Kelamin              : Perempuan
      3. Umur                           : 58 tahun
      4. Pendidikan                  : SLTP
      5. Pekerjaan                     : Wiraswasta
        1. Alamat                        : Perumahan Mirota  RT 05 RW 36, Banjeng  Maguwoharjo Depok Sleman
      6. Susunan Anggota Keluarga
No. Nama Hubungan Sex Umur Pendidikan Agama Ket.
1. Ny D Ibu P 58 th SLTP Islam Janda
2. Ny A Ibu Kandung P 98 th SR Islam Janda
3. Tn M Adik Kandung L 50 th SLTA Islam  

 

  1. Genogram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

: Riwayat Hipertensi                                 : Laki – laki

: Riwayat DM                                           : Perempuan

: garis perkawinan                                     : garis keturunan

: tinggal dalam satu rumah                       : meninggal

 

 

  1. Type Keluarga                   : Keluarga Eksteded
  2. Suku / Kebangsaan           : Jawa
  3. Agama                               : Islam
  4. Status Sosial Ekonomi
    1. Kegiatan Organisasi

Keluarga Ny. D termasuk keluarga yang aktif dalam organisasi di masyarakat. Ny D ikut dalam kegiatan pengajian, arisan dll sedangkan Adik Kandungnya Tn. M aktif organisasi juga. Tn M aktif dalam kegiatan pengajian, arisan dll sedangkan Ny. A sudah tidak aktif lagi karena sudah tua dan badannya tidak kuat lagi.

  1. Keadaan Ekonomi

Keluarga Ny D termasuk keluarga sejahtera II karena keluarga sudah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan kebutuhan social psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal dan transportasi, namun belum dapat memenuhi kebutuhan pengembangan seperti kebutuhan menabung dan memperoleh informasi.

  1. Aktivitas Rekreasi Keluarga

Kegiatan rekreasi keluar rumah, keluarga biasanya dilakukan individual. Sedangkan rekreasi di dalam rumah seperti menonton TV bersama-sama. Ny A biasanya untuk rekreasi ke luar rumah hanya di sekitar lingkungan rumahnya karena sudah tidak kuat lagi untu menempuh perjalanan jauh.

 

Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga

  1. Tahap Perkembangan Keluarga : Keluarga usia lanjut

10.  Riwayat Keluarga Inti

Ny D

Ny D mengatakan sudah menderita hipertensi sejak kurang lebih 15 tahun yang lalu. Waktu itu Ny D mengeluh pusing dan stress, karena harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang membutuhkan biaya besar setelah sepeninggal suaminya. Biasanya ketika tekanan darah Ny D tinggi sering mengeluhkan kepalanya pusing dan pikirannya stres. Ny D secara rutin mengecekkan tekanan darahnya di tempat Ibu……. Ny D sudah berusaha mengobati tekanan darah tingginya dengan ramuan tradisional, jamu, dan dengan berpantang terhadap makanan -makanan yang dapat meningkatkan tekanan darah. Ibu mengatakan mungkin salah satu penyebabnya dalah karena dia lelah bekerja di kantor. Ketika dilakukan pengkajian Ny T mengatakan selain sering pusing juga sering sesak nafas. Ketika dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan :

KU                        : Baik Compos mentis

Tanda-tanda vital  : TD   140/80  mmHg, mengeluh sakit kepala.

Kepala                   : mata, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, penglihatan masih bagus

Hidung                  : normal, lubang nares simetris

Telinga                  : bersih tidak ada kelainan, pendengaran masih bagus

Leher                     : tidak ada peningkatan JVP

Thorax                   : simetris, pernafasan vesikuler

Abdomen              : supel, H/L ttb, peristaltic usus (+)

Ektremitas             : kedua ekstremitas tidak ada kelainan

 

Tn. M

Tn D mengatakan bahwa di menderita DM sejak 2 tahun terakhir. Waktu itu Tn D mengeluh badannnya lemas dan sering ngantuk. Tn M merasa banyak minum tapi juga banyak kencing walaupun pada dasarnya Tn M juga udah sering minum banyak. Setelah di periksakan ke dokter dan ternyata menderita DM Tn M melakukan banyak cara untuk terhindar dari penyakit ini. Tn. M melkukan diet terpaksa sehingga berat badannya turun dratis dari 75 kg menjadi 45 kg. Waktu mengetahui di menderita gula, Tn D membatasi makanan yang dia komsumsi dan menjalani pantangan makanan yang dia anjurkan. Selainn itu Tn. M juga melakukan oleh saga dan juga meminum segala macam ramuan tradisonal misalnya minum biji salak yang telah di sangria dan di tumbuk, minum sari lidah buaya dan sari jipang setiap hari. Sejak minum daun lidah buaya dan jipanng yang di komsumsi tiap hari Tn. M merasa sehatan dan DMnya jarang kambuh lagi. Tn. M sering mengecek kadar gulanya sendiri dengan one-touch setip kali merasakan badannya tidak dalam kondisi optimal.

Ny. A

Pada saat pengkajian mengeluhkan sering pusing TD 210/100 mmHg. Simbah telah menderita hipertensi sejak lama kurang lebih 10 tahun yang lalu. Simbah biasanya kalau lagi naik tensinya mengeluh pusing dan pegal-pegal, tidak doyan makan, dan juga marah-marah. Biasanya simbah kontrol ke ibu Sarjono jika kelihatan tekanan darahnya naik. Simbah kalau pagi sering jalan-jalan di sekitar rumah

 

  1. B. Pola Kesehatan Keluarga
    1. Kebersihan Diri

Kebiasaan personal hygiene keluarga untuk mandi biasanya 2 x sehari dengan sabun dan gosok gigi. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

  1. Penyakit Yang Pernah Diderita
  • Riwayat Penyakit Dahulu

Ny D mengatakan sudah menderita hipertensi sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu. Hal ini terjadi ketika Ny T banyak pikiran, Ny T mengeluhkan sering merasa pusing – pusing. Selain ketika kedinginan dan di lingkungan yang berdebu Ny T mengeluhkan sering sesak nafas.

Tn. M mengatakan sudah menderita DM sejak 2 tahun yang lalu. Hal ini terjadi apabila Tn. M mengkomsumsi makanan yang berlebih ((minum the manis dengan es)

Ny. A mengatakan bahwa dia sudah menderita hipertensi sudah sejak lama.

  • Riwayat Penyakit Keturunan

Tn. M mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang menderita DM hanya Tn. M sendiri yang menderita DM. namunn untuk riwayat hipertensi Tn.M mengakui bahwa keluarganya ada yang mempunyai riwayat hipertensi.

  • Riwayat Penyakit Kronis

Ny. T dan Ny. A sudah lama menderita hipertensi seangkan Tn. M sudah 2 tahun ini menderita DM.

  1. Pola Nutrisi

Kebiasaan keluarga untuk makan dan minum setiap anggota keluarga tidak sama. Ny D mempunyai kebiasaan makan tidak tentu kadang 2 X atau bisa lebih. Kebiasaan minum tergantung aktivitas, ketika aktivitasnya berat minumnya bisa lebih dari 2 liter perhari, ketika aktivitasnya biasa hanya minum 4 – 5 gelas berupa air putih dan air teh. Tn. M apabila makan seadanya dan kadang tidak tentu berapa kali dalam sehari namun untuk minum Tn, M tergolong banyak karena aktifitasnya juga banyak. Untuk Ny. A makannya teratur tiga kali sehari sedangkan untuk minum Ny. A lebih senang ke the yang kental dan nasgitel.

  1. Pola Istirahat

Ny D jarang sekali tidur siang, karena kesibukan Ny. D dikantor. Tidur malam dari pukul 22.00 sampai dengan 04.30 WIB atau ketika adzan subuh setelah itu tidak tidur lagi. Tn. M jarang tidur siang atau hamper tidak pernah tidur siang, untuk malam biasanya tidur diatas pukul 22.00 sampai dengan 05.00 WIB dan setelah itu tidak tidur lagi. Ny. A tidur siang sering dan jamnya tidak tentu sesuai keadaan untuk malam justru Ny. A jam 8 sudah tidur dan bangun jam 04.30 WIB

 

  1. Pola Eliminasi

Ny D biasa BAB 1X/hari, BAK tergantung banyaknya air yang Ny D minum  kalau minumnya banyak BAK bisa lebih dari 3 X. Ny. A BAB 3 hari sekali dan untuk BAK 6-7 kali sehari. Tn. M banyak minum sehingga di sering kali kencing terkadang samapi 10 kalil sedangkan untuk BAB biasanya 1 kali sehari.

  1. Pola Aktivitas

Kegiatan yang biasa Ny D lakukan adalah bekerja di perusahaan swasta. Untuk Ny. A bisanya jalan-jalan sekitar rumah atau misalnya baru segar badanya mencuci baju ataupun menyapu. Untuk Tn. M bisanya badminton, jalan-jalan, mincing dll.  Pola Perilaku Keluarga Yang Merugikan Kesehatan Keluarga tidak ada yang merokok.

  1. Kesehatan Reproduksi

Ny D mempunyai 1 orang anak yang sudah dewasa dan sudah menikah. Ny D sudah tidak pernah melakukan hubungan seksual lagi karena suaminya sudah meninggal dunia. Begitu juga Ny. A yang mempunyai 3 orang anak, selain sudah lanjut usia juga karena suaminya sudah meninggal dunia. Untuk Tn. M beranggapan bahwa semua itu kembali pada induvidu, Tn. M mempunyai 3 orang anak yang berda di luar kota yaitu Purwokerto dan istrinya juga tinggal bersama ketiga anaknya. Tn. M sebulan sekali mengunjungi istri dan anak-anaknya yang berada di Purwokarta.

  1. Sumber Pelayanan Kesehatan Yang Biasa Digunakan Keluarga

Ny D menggunakan fasilitas kesehatan yang diberikan perusahaan yaitu RS Bethesda sebagai RS rujukan dari perusahaan begitu pula dengan anggota keluarga lainnya, namun keluarga Ny. D juag menggunakan Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan.

  1. C. Pengkajian Lingkungan

1.)    Kharakteristik Rumah

Rumah Ny D merupakan rumah milik pribadi dengan ukuran kurang lebih 100 m2. Termasuk rumah permanent, berdinding tembok lantainya dari keramik. Mempunyai 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 dapur , 1 kamar mandi dan WC. Ventilasi rumah sudah mencukupi 10% dari total bangunan dan lingkungannya tampak bersih.

 

  1. Denah Rumah

 

1                      2                      3

 

3          4                                  5

 

6

7

 

9                      8

Keterangan :

  1. Ruang tamu
  2. Kamar tidur
  3. Tempat jemuran
  4. Ruang Tengah,  ruang kelurga nonton televise
  5. Kamar Tidur
  6. Ruang Makan
  7. Kamar Tidur
  8. Dapur
  9. kamar madi & WC
  10. Pembuangan Air Kotor

Ada septic tank dan resapan sendiri pembuangan air limbah dengan kondisi baik terletak di depan rumah dan jauh dari sumber air (lebih 10 meter).

 

 

  1. Pembuangan Sampah

Keluarga mempunyai tempat pembuangan sampah sendiri yang di tempatkan di bak sampah dan keludian di ambil petugas samaph setiap 2  hari sekali apabila tidak di ambil biasanya keluarga membuang sampahnya di tempat pembuangan sampah (TPS).

  1. Sanitasi

Lingkungan rumah Ny D tampak bersih, pekarangan tidak dimanfaatkan secara maksimal hanya ada beberapa tanaman saja.

  1. Jamban Keluarga

Mempunyai jamban keluarga sendiri dengan bentuk leher angsa dan terletak di dalam rumah.

  1. Sumber Air Minum

Keluarga memanfaatkan air sumur yang dikelola satu perumahan.

2.)    Kharakteristik Tetangga dan Komunitas RW

Tetangga Ny D termasuk tetangga yang baik, rasa kekeluargaan dan kegotong royongan tinggi dan selalu siap membantu keluarga Ny D.

3.)    Mobilitas Geografi Keluarga

Keluarga Ny D sudah lama tinggal di rumah tersebut tidak pernah pindah.

4.)    Sistem Pendukung Keluarga

Keluarga selalu mendapat dukungan dari anak-anaknya. Bila ada masalah kesehatan keluarga Ny D selalu selalu di bawa ke pskesmas ataupun ke RS bethesda.

  1. Jarak Untuk Pelayanan Kesehatan Terdekat
  • puskesmas                 : kurang lebih 5 km
  • puskesmas pembantu            : kurang lebih 2 km
  • rumah sakit               : kurang lebih 3 km
  • posyandu                  : kurang lebih 50 meter
  1. Fasilitas Sosial
  • masjid/mushola            : kurang lebih 1 km
  • pasar                             : kurang lebih 1 km

 

  1. D. Struktur Keluarga
  • Cara Berkomunikasi Anggota Keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari keluarga berkomunikasi dengan bahasa jawa. Keluarga Ny D merupakan keluarga yang terbuka, bila ada masalah selalu dikomunikasikan bersama, siapa yang mempunyai masalah apabila menyangkut keluarga bisanya di diskusikan bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, namun apabila masalahnya intern maka kelurga tidak mencampuri urusan akan lebih kea rah menasehati saja. Biasanya sebagai penengah adalah Tn. M.

  • Struktur Kekuatan Keluarga

Struktur kekuatan keluarga cenderung bersifat afektif, kekuasaan / sifat merubah perilaku keluarga timbul karena ada perasaan saling menyayangi. Dalam pengambilan keputusan dimusyawarahkan bersama namun lebih dominan adik Ny D untuk memutuskan karena dia dianggab yang lebih tahu dan banyak pengalaman.

  • Struktur Peran

Peran Ny D sebagai tulang punggung keluarga meskipun Tn. M membantu mencari uang dengan bekerja sambilan.

  • Nilai dan Norma Keluarga

Dalam keluarga tidak ada nilai dan norma khusus yang mengikat anggota keluarga. Untuk masalah kesehatanpun dalam keluarga tidak ada praktik yang harus dilakukan semua anggota keluarga. Semua diserahkan ke masing-masing pribadi, namun masih ada fasilitas yang diberikan dri perusahan Ny. D. Sistem nilai yang dianut keluarga dipengaruh status sosial, agama.

  1. E. Fungsi Keluarga
  • Fungsi Afektif

Hubungan dalam keluarga Ny D terjalin akrab, antara satu dengan yang lain saling mendukung, menghormati, membantu bila ada masalah.

  • Fungsi Perawatan Keluarga
  1. Kemampuan Keluarga Mengenal Masalah

Keluarga sudah tahu bahwa Ny Dmenderita penyakit hipertensi, tahu pantangan makanan yang harus ditaati, tahu tentang ramuan tradisional atau jenis buah atau tumbuhan yang bisa mengurangi tekanan darah tinggi, namun keluarga belum tahu apa itu penyakit darah tinggi, pemicu dan akibatnya bila terlalu tinggi. Keluarga tahu bahwa Ny A juga menderita hipertensi namun belum tahu secara jelas pengertian, factor penyebab, proses terjadinya, cara pencegahan dan pengobatan hipertensi. Keluarga tahu bahwa Tn M menderita DM namun belum mengetahui mekanisme terjadinya DM.

  1. Kemampuan Keluarga Mengambil keputusan

Masalah yang terjadi dalam keluarga Ny D dimusyawarahkan bersama terutama dengan adik kandungnya. Dalam pengambilan keputusan yang paling dominan melakukannya adalah adik Ny D yaitu Tn. M karena dia dianggab yang lebih banyak tahu dan lebih berpengalaman daripada Ny. D dan yang paling bijaksana.

  1. Kemampuan Keluarga Merawat Anggota Keluarga Yang Sakit

Keluarga belum maksimal bisa merawat Ny A, hal ini dapat dilihat dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah Ny A masih tetap tinggi.

  1. Kemampuan Keluarga Memelihara Lingkungan Rumah

Pemanfaatan rumah Ny T belum maksimal. Keluarga menyadari pentingnya kebersihan lingkungan terhadap kesehatan.

  1. Kemampuan Keluarga Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan

Ny D selalu memeriksakan dirinya ataupun keluarga yang sakit setiap ada yang sakit ke pelayanan kesehatan.

  • Fungsi Reproduksi

Ny D mempunyai 2 orang anak yang sudah dewasa dan sudah menikah, Tn. M mempunyai 3 orang anak. Sedangkan Ny. A mempunyai 3 orangn anak dan sudah menikah semua.

  • Fungsi Sosialisasi

Interaksi dalam keluarga terjalin dengan akrab. Dengan masyarakat juga akrab, saling tolong menolong bila ada masalah.

 

 

 

  • Fungsi Ekonomi

Ny D sudah tidak membiayai anak-anaknya, namun masih mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tn. M mempunyai pekerjaan sambilan sehingga dapat memnuhi kebutuhan keluarga. Untuk Ny. A sudah tidak bekerja karena sudah tua sehingga sumua biaya di tanggung oleh anaknya yaitu Ny. D dan Tn. M

  1. Stres dan Koping Keluarga
  • Strategi Koping

Keluarga merasa apa yang terjadi merupakan kehendak Tuhan, Keluarga hanya bisa pasrah. Bila ada masalah tidak dibuat tegang agar tidak stress berusaha berpikir dengan pikiran dingin dan lebih santai. Tn. M mengatakan hidup ini hanya sekali ibarat musafir hanya minum setetes air di padang pasir.

  • Status Emosi

Ny D termasuk orang yang tidak mudah untuk stress Mungkin karena umur dari anggota keluarga nY. D sudah lansia dan pra lansia maka ibarat padi sudah merunduk sehingga pemikiran dan pengambilan keputusan memang benar-benar di pikirkan matang-matang.

  1. Persepsi Keluarga Terhadap Masalah

Keluarga mengganggap apa yang terjadi pada keluaarga Ny D adalah biasa. Keluarga akan mencari pelayanan kesehatan ketika ada anggota keluarga Ny D ada keluhan atau mereka akan mencari perawat/bidan/dokter terdekat untuk berobat. Apabila ada yang sakit jarang sekali minum obat dari warung atau justru terkadanng minum ramuan tradisional.

 

 

 

 

 

  1. II. ANALISA DATA
No. Data Masalah Penyebab Tipology
1. Data Subyektif :

Ny T mengatakan sudah menderita hipertensi kurang lebih sejak 10 tahun yang lalu

Ny T merasa biasa dengan keadaannya yang sekarang hanya sering mengeluhkan pusing

Ny T takut untuk minum obat, bila tekanan darahnya tinggi hanya memakan makanan yang bisa menurunkannya

Keluarga belum tahu tentang penyakit hipertensi, namun keluarga sudah tahu tentang makanan-makanannya yang mempengaruhi tekanan darah

Ny T tidak pernah mau untuk berobat ke pelayanan kesehatan.

Ny T mengeluh kepalanya pusing

Data Obyektif :

KU : Baik, TD 210/100 mmHg

Penglihatan baik, pendengaran baik, reflek normal

 

Ketidakefektifan managemen regimen teurapetik keluarga

 

Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang sakit. ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada

 

Actual

2. Data Subyektif:

Ny T mengatakan ibunya dulu menderita asma

Ny T mengatakan dia juga menderita asma

Keluarga mengatakan belum tahu tentang penyakit asma, pengertian, penyebab, pencegahan dan penatalaksanaan

Keluarga hanya membelikan obat warung ketika Ny T sesak nafas tidak pernah ke pelayanan kesehatan.

Data Obyektif

KU: baik composmentis

Pemeriksaan thorax simetris , vesikuler

 

Ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga

 

 

Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan

 

Actual

3. Data subyektif:

Ny T mengatakan keluarga mempunyai riwayat penyakit infeksai pada saluran pernafasan

Ny T mengatakan suaminya dulu meninggal karena terkena flek paru.

Data Obyektif :

Lingkungan rumah Ny T tampak kotor

Terdapat bekas kandang ternak yang belum dibersihkan dan menempel dengan bangunan rumah

 

 

Resiko terjadinya penyakit infeksi saluran pernafasan

 

Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan Ketidakmampuan keluarga untuk memelihara lingkungan

 

Resiko

 

III. SKALA PRIORITAS MASALAH

  1. Diagnosa I

Ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit, ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : actual 3/3 X 1 1 Ny T menderita hipertensi sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu. Ny T hanya memakan makanan yang bisa menurunkan tekanan darah dan berpantang memakan makanan yang meningkatkan, Ny T mengatakan takut ke pelayanan kesehatan.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: Sebagian ½ X 2 1 Tehnologi kesehatan yang berkembang pesat, sumber daya dan dana yang ada, pemahaman keluarga tentang penyakit bagus , waktu dan tenaga yang terbatas serta ketidakmauan keluarga ke pelayanan kesehatan
3. Potensial masalah untuk dicegah: cukup 2/3 X 1 2/3 Masalah ini sudah lama terjadi dan keluarga sudah berupaya merawat dan mengobati sendiri anggota yang sakit meski belum memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
4. Menonjolnya masalah: masalah perlu segera ditangani 2/2 X 1 1 Keluarga merasa masalah harus segera ditangani agar tekanan darah tidak semakin tinggi
  Jumlah   3 2/3  

 

  1. Diagnosa II

ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan.

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : actual 3/3 X 1 1 Ny T mengatakan orang tuanya pernah menderita asma. Ny T juga menderita asma. Sesak nafas terjadi ketika berada di lingkungan yang dingin dan berdebu.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: Sebagian ½ X 2 1 Sumber daya keluarga yang mendukung, perkembagan tehnik pengobatan asma yang pesat, lingkungan rumah yang kotor dan berdebu
3. Potensial masalah untuk dicegah: cukup 2/3 X 1 2/3 Masalah ini sudah lama, dengan mengolah pikiran yang sehat, lingkungan yang bersih dan memakai baju tebal/hangat ketika di lingkungan dingin.
4. Menonjolnya masalah: masalah perlu segera ditangani 2/2 X 1 1 Ketika asmanya kambuh keluarga merasa masalah harus segera berupaya mencari pengobatan
  Jumlah   3 2/3  

 

  1. Diagnosa III

Resiko terjadi penyakit infeksi saluran pernafasan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan.

No Kriteria Hitungan Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah : resiko 2/3 X 1 2/3 Lingkungan rumah yang kotor, berdebu. Riwayat keluarga menderita penyakit infeksi saluran pernafasan.
2. Kemungkinan masalah dapat diubah: sebagian ½ X 2 1 Sumber daya keluarga yang mendukung.
3. Potensial masalah untuk dicegah: cukup 2/3 X 1 2/3 Memelihara lingkungan yang bersih dan memenuhi syarat rumah sehat
4. Menonjolnya masalah: ada masalah tapi tidak perlu segera ditangani ½ X 1 1/2 Keluarga mengetahui ada masalah namun keluarga merasa belum perlu menangani karena belum terjadi.
  Jumlah   2 5/6  

 

Diagnosa prioritas :

  1. Ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit, ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
  2. Ketidakefektifan managemen regimen terapeutik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan.
  3. Resiko terjadi penyakit infeksi saluran pernafasan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan.

 

IV. RENCANA KEPERAWATAN

No Dx Tupan Tupen Kriteria Evaluasi Standar Evaluasi Intervensi
1 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan keluarga dapat melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan tidak terjadi komplikasi Setelah dilakukan  5 X kunjungan keluarga dapat :

1.  Memahami tentang penyakit hipertensi

  1. Dapat merawat penderita hipertensi
  2. Memeriksakan secara rutin di pelayanan kesehatan
Verbal psikomotor Keluarga memahami tentang :

–                                                    Pengertian

–                                                    Tanda dan gejala

–    Factor yang mempengaruhi

–                                                    Cara pencegahan

–                                                    Komplikasi

Membawa keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan

Jelaskan dan diskusikan tentang hipertensi :

–          Pengertian

–          Tanda dan gejala

–          Factor yang mempengaruhi

–          Cara pencegahan

–                                                          Komplikasi

Lakukan pengukuran tekanan darah

Motivasi keluarga untuk memeriksakan secara rutin tekanan darahnya ke pelayanan kesehatan.

2 Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan keluarga dapat melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan tidak terjadi komplikasi Setelah dilakukan  5 X kunjungan keluarga dapat :

  1. Mengenal masalah kesehatan yang terjadi
  2. Memahami tentang penyakit asma
  3. Memodifikasi lingkungan
  4. Melakukan senam asma

 

 

 

Status verbal psikomotor Keluarga memahami tentang :

  • Pengertian
  • Tanda dan gejala
  • Factor yang mempengaruhi
  • Cara pencegahan

Keluarga mengerti tentang senam asma:

  • Pengertian
  • Tujuan dan manfaat
  • Waktu unuk melakukan senam
    • Tehnik melakukan senam asma
Jelaskan dan diskusikan tentang asma :

  • Pengertian
    • Tanda dan gejala
    • Factor yang mempengaruhi
    • Cara pencegahan

Lakukan pemeriksaan thorax

Jelaskan dan demontrasikan senam asma

  Setelah dilakukan perawatan selama 1 bulan keluarga tidak terkena infeksi saluran pernafasan Setelah dilakukan  5 x kunjungan keluarga dapat memahami tentang infeksi saluran pernafasan Verbal Psikomotor Keluarga memahami tentang :

  • Pengertian infeksi saluran pernafasan
  • Tanda dan gejala
  • Cara pencegahan

 

Jelakan dan diskusikan tentang Infeksi saluran pernafasan

  • Pengertian infeksi saluran pernafasan
  • Tanda dan gejala
  • Cara pencegahan

Lakukan pemeriksaan fisik thorax

 

  1. IMPLEMENTASI
Diagnosa:Ketidakefektifan managemen regimen terapeytik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit, ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Senin, 27-02-06 w  Mengkaji kemampuan fisik.

w  Mengkaji kondisi lingkungan.

w  Mengukur tanda-tanda vital

w

S

 

 

 

 

O

 

 

 

 

A

P

Ny St mengatakan sudah mengerti manfaat dari aktifitas untuk melatih otot

Ny St mengatakan masih mudah capek kalau beraktivitas

Berjalan dengan pelan-pelan, hati-hati. dengan menggunakan tongkat

TD 140/80 mmHg, Nadi 72 X/mnt, R 16 X/mnt

Masalah belum teratasi.

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi.

Rabu, 01-03-06 ¨       Menjelaskan kembali pentingnya latihan otot.

¨       Menganjurkan untuk jalan dengan hati-hati.

¨       Menganjurkan untuk istirahat kalau kecapekan

 

S

 

 

 

O

A

P

Ny St merasa masih mudah capek

Tn. P mengatakan selalu berhati-hati kalau berjalan

Jalan pelan-pelan.

Masalah Belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi.

Jum’at, 02-03-06

 

¨       Menganjurkan untuk  ikut senam lansia

¨       Menjaga lingkungan aman.

¨       Menganjurkan untk berhati-hati ketika berjalan, naik turun tangga.

 

S

 

O

 

A

P

Ny St mengatakan tidak mau ikut senam

Lantai bersih, tidak licin

Jalan pelan-pelan, hati-hati.

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi.

Senin, 06-03-06 ¨       Menganjurkan untuk istirahat sewaktu kecapekan

¨       Menjaga lingkungan aman.

¨       Beri reinforcement positif.

S

 

O

 

 

 

A

P

Ny St merasa rasa capeknya belum berkurang

Lantai tidak kotor, tidak licin

Jalan pelan-pelan, hati-hati.

Dibimbing temannya yang satu kamar

Masalah masih beresiko.

Lanjutkan intervensi.

Selasa, 07-03-06 ¨       Menganjurkan untuk rajin ikut senam dan melatih gerakan tangan dan kaki kanan

¨       Menganjurkan untuk istirahat kalau kecapekan

¨       Menganjurkan untuk berhati-hati kalau berjalan atau melakukan aktifitas

S

 

 

O

 

 

 

A

P

Ny St mengatakan lebih baik tinggal di wisma, tidak mau ikut senam

Berjalan pelan-pelan, hati-hati

Lantai tidak licin, hanya saja bagian depan wisma sedikit kotor

Masalah masih beresiko

Lanjutkan intervensi

Diagnosa: Ketidakefektifan managemen regimen terapeytik keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, ketidakmampuan keluarga merawat anggota yang sakit dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Senin,

27-03-06

¨     Mengkaji kondisi klien

¨     Mengkaji respon klien dengan adanya luka pada kaki kanannya.

¨     Mendiskusikan tentang apa yang membuat gambaran diri klien terganggu

¨     Memberi penjelasan tentang luka yang terjadi.

 

S

 

 

 

 

O

 

 

A

P

Ny St mengatakan malu dengan kondisi kakinya yang tidak sembuh-sembuh

Ny St mengatakan sedikit tahu tentang kondisi kakinya

Terdapat luka di kaki kanan

Tampak wajah Ny St lesu, tidak bersemangat

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi.

Rabu

01-03-06

¨   Mengkaji respon klien dengan adanya luka pada kaki kanan.

¨   Mengkaji dampak luka pada gambaran diri.

¨   Mendiskusikan respon positif yang bisa diambil

¨   Menjelaskan tentang luka yang terjadi pada klien

¨   Menganjurkan untuk menutupi kakinya sampai ke bawah agar kakinya yang sakit tidak kelihatan

¨   Menganjurkan untuk mau berkumpul dengan teman-temannya

 

S

 

 

 

 

 

 

 

 

O

 

 

 

 

A

P

Ny St mengatakan masih malu bila berkumpul dengan teman-temannya karena kondisi kakinya

Ny St mengatakan tahu tentang luka pada kakinya

Ny St belum mau berkumpul dengan teman-temannya kecuali pada acara pengajian

Tampak lesu tidak bersemangat,Menutup kakinya yang sakit dengan memanjangkan kain yang dipakainya

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi.

Kamis

02-03-06

¨   Menganjurkan klien untuk ikut permainan agar bisa kumpul dengan teman-temannya

¨   Menganjurkan untuk ikut pengajian agar bisa berkumpul dengan teman-temannya

 

S

 

O

 

 

A

P

Ny St mengatakan tidak mau ikut permainan

Ny St mengatakan mau ikut kegiatan pengajian saja.

Ny St ikut pengajian di mushola

Masalah teratasi sebagian

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi

Jumat

03-03-06

¨   Menganjurkan klien untuk ikut permainan bersama teman-temannya

¨   Mendiskusikan perasaan klien dan respon klien dengan adanya luka pada kakinya

¨   Mendiskusikan dengan klien tentang lukanya

 

S

 

 

 

 

O

 

A

P

Ny St mengatakan masih malu bila harus berkumpul dengan orang banyak

Ny st mengatakan luka pada kakinya sudah lumayan

Tampak luka sudah kering

Ny St masih sering mengaruk luka Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

Senin,

06-03-06

¨   Mendiskusikan upaya klien agar tidak malu dengan teman-temannya

¨   Mendiskusikan tentang perawatan luka yang baik dan upaya yang sudah dilakukan klien untuk merawat luka

¨   Modifikasi lingkungan dengan menjaga ketenangan

S

 

 

 

 

O

 

A

P

Ny St mengatakan masih malu berkumpul dengan teman-temannya

Ny St mengatakan merawat luka dengan bedak atau salep

Luka sudah kering, kondisi luka bagus, masih sering digaruk

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

 

 

 

Diagnosa : Resiko terjadi penyakit infeksi saluran pernafasan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan
Hari/tgl IMPLEMENTASI EVALUASI
Senin, 27-02-06 ¨   Mengkaji kemampuan intelektual dan kognitif klien

¨   Mengkaji kondisi klien

¨   mendiskusikan tentang perasaan klien selama tinggal di panti

¨   Mendengarkan “unek-unek” yang klien sampaikan

¨   Mengkaji kemampuan klien menghadapi stressor pada dirinya

 

S

 

 

 

 

 

 

 

O

 

 

A

P

Ny St mengatakan tidak betah tinggal di panti

Ny St mengatakan ingin pulang

Ny St mengatakan dirinya tidak berguna selama tinggal di panti

Ny St mengatakan sudah tidak mau lagi melakukan kegiatan seperti dulu

Klien tampak lesu, tidak bersemangat, intelektual, kognitif klien masih bagus

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi

 

Rabu, 01-03-06 ¨   Mengkaji perasaan klien

¨   Mendengarkan klien mengekspresikan perasaannya

¨   Mengkaji kemampuan adaptasi yang klien gunakan

¨   Mengkaji kemampuan koping yang digunakan untuk menghadapi stressor

¨   Mendiskusikan tentang respon positif yang pernah klien gunakan dulu.

S

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

O

AP

Ny St mengatakan dia tidak pernah merasa bahagia dn gembira tinggal di panti

Ny St mengatakan hidupnya terasa hampa tidak bisa bebas tinggal di panti

Ny St mengatakan teman-temannya di wisma tidak bisa rukun

Ny St mengatakan lebih suka tinggal di rumah daripada ikut kegiatan panti.

Tampak lesu, tidak bersemangat

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi

Jumat, 03-03-06 ¨   Menganjurkan klien untuk berkumpul dengan teman-temannya

¨   Menganjurkan klien untuk ikut permainan agar bisa bergembira dan melupakan kesedihannya

S

 

 

 

 

O

 

A

P

Ny St mengatakan tidak mau ikut permainan dan berkumpul bersama teman-temannya

Ny St mengatakan dirinya tidak bahagia

Tampak lesu, tidak bersemangat.

Masalah belum teratasi

Beri penguatan positif, lanjutkan intervensi

Senin, 06-03-06 ¨   Membantu klien mengidentifikasi apa yang membuatnya tidak bahagia

¨   Membantu klien mengidentifikasi respon yang baik dan yang buruk.

¨   Mendengarkan klien mengekspresikan perasaannya

S

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

O

 

 

 

A

P

Ny St mengatakan yang tidak membuatnya bahagia adalah karena dia tidak betah tinggal di panti, hidup di panti tidak bebas, membuat ny St tidak bisa melakukan kegiatan seperti dulu.

Ny St mengatakan teman-temannya di wisma tidak bisa hidup rukun-rukun

Ny st mengatakan lebih suka tinggal di wisma daripada kumpul bersama teman-temannya

Ny st mengatakan mau berkumpul dengan teman-temannya ketika pengajian saja.

Ny St ikut pengajian, Ny St tampak mengerutu dengan temannya di wisma, Ny st sudah bisa tersenyum

Masalah teratasi sebagian

Lanjutkan intervensi

 

 

**Apa Yang Paling Cepat Didunia?**

Seorang manager HRD sedang menyaring pelamar untung satu lowongan di kantornya. Ada empat orang calon yang cocok. Untuk menentukan yang terbaik, ia mengajukan pertanyaan kepada keempat calon tersebut:

Setahu Anda, apa yg paling cepat di dunia ini?

Calon pertama :

“PIKIRAN..!!! Dia muncul begitu saja di dalam kepala, tanpa peringatan, tanpa ancang2. Tiba2 saja dia sudah ada..

“Bagus,” sahut si Manager. “Kalau menurut anda?” tanyanya kepada calon ke-2.

Calon kedua :

“Hmm…KEJAPAN MATA..!!! Datangnya tidak bisa di perkirakan, dan tanpa kita sadari mata kita sudah berkejap.

“Bagus sekali! Memang ada ungkapan sekejap mata untuk menggambarkan betapa cepatnya sesuatu terjadi.” Si manager berpaling ke calon ke3, yang sedang berpikir keras.

Calon ketiga :

“NYALA LAMPU adalah yang tercepat yang saya ketahui…!!!” jawabnya.. “saya sering menyalakan saklar di dalam rumah dan lampu yang ada di taman langsung menyala saat itu juga.

Si manager terkesan dengan jawaban kandidat ke 3. “Memang sulit mengalahkan kecepatan cahaya,” pujinya. Di lirik oleh sang manager,

Calon ke’empat menjawab :

“Sudah jelas bahwa yang paling cepat di dunia itu adalah MENCRET..!!!”

“APA?” seru sang manager yang terkaget-kaget dengan jawaban yang tak terduga itu.

“OOO……. saya bisa menjelaskannya,” kata calon ke4. ” Dua hari lalu perut saya mendadak mules sekali. Cepat-cepat saya berlari ke toilet. Tapi sebelum saya sempat BERPIKIR, MENGEJAPKAN MATA, dan MENYALAKAN LAMPU saya sudah berak di celana…!!

**Arti Berbagi ” yang SEBENARNYA**

Sepasang Kakek-Nenek datang ke restoran Mc.Donald dengan saling menuntun. Mereka duduk disebuah bangku panjang berdua, disamping seorang anak muda. Si Kakek segera berdiri dan memesan makanan,
sebuah hamburger, sporsi kentang goreng dan segelas minuman.

Setelah itu kembali duduk, membagi hamburger jadi 2 bagian, menghitung kentang goreng dengan cermat dan membagi adil dengan Si Nenek, kemudian mengambil 2 sedotan, menaruh gelas minuman tepat ditengah meja. Si Anak Muda memperhatikan tingkah sepasang Kakek – Nenek itu dengan salut.

Si Kakek kemudian mulai makan bagiannya, sementara Si Nenek hanya memperhatikan.

– Si Anak Muda merasa kasian, akhirnya mendekat dan berkata : “Kek boleh….

– Si Kakek jawab : “tidak usah….terima kasih…. kami selalu berbagi makanan yang sama”.

Sampai Si Kakek selesai makan, mengelap mulut dengan tissue, Si Nenek masih saja menunggu tanpa menyentuh makanan bagiannya.

– Si Anak Muda mendekat lagi, kali ini berkata : ” Nek, boleh saya belikan makanan yang lain, mungkin nenek tidak suka yang ini?”

– Si Nenek jawab: “tidak ….terima kasih.”
Trus Si Anak Muda bertanya lagi: ” Kalau begitu kenapa makanannya tidak di makan, katanya kalian suka berbagi?”

– Kata Si Nenek: “SAYA SEDANG MENUNGGU GIGI PALSU…..
SOALNYA GANTIAN SAMA KAKEK !!!…..

kata kata mutiara

Awal mula menuntut ilmu, diam. Yang kedua, mendengar dengan tekun. Yang ketiga, faham dan hafal. Yang keempat, mengamalkannya, yang kelima, menyebarluaskannya.

 

Kami selalu tidak dapat membangun masa depan bagi generasi muda kita, tetapi kita dapat membangun generasi muda kita untuk masa depan

 

Kalau nyata bahawa harta benda tidak dapat menangkis sakit, tidak dapat menolak demam, tidak dapat menghindarkan maut, nyatalah bahawa kesusahan yang menimpa orang kaya, serupa dengan kesusahan yang menimpa orang miskin.

“Waktu memang tak terbatas – tapi waktu kita terbatas“

Terkadang kita terlalu disibukkan oleh hal-hal yang begitu remeh sehingga kita terlupa untuk segera menyelesaikan tugas besar yang sebetulnya telah menunggu kita untuk diselesaikan. Coba Anda audit lagi apa yang telah Anda lakukan dalam 1 (satu) bulan ini, mungkin ada beberapa hal yang semestinya bisa diselesaikan dengan cepat di awal atau pertengahan bulan. Kebanyakan manusia memang demikian adanya sehingga banyak hal yang terlewat dari kita semua. Saya diberikan tips yang sangat bagus oleh sebuah buku … dan ini sudah terbukti. Sangat sederhana tips ini bahkan terkadang Anda meremehkan loh. Begini: untuk menyelesaikan suatu tugas, Anda sebelum berangkat tidur, coba tuliskan 5 hal yang akan Anda selesaikan esok hari. Lalu Anda cukup berangkat tidur setelah menuliskan 5 hal itu. Dan buktikan esok paginya. Okay,